Padam - Pemadaman obor oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan sebagai tanda berakhirnya Olahraga dan Seni Mahasiswa Brawijaya 2019 pada 5/10/2019.

Malang, PERSPEKTIF – Gelaran Olahraga dan Seni Mahasiwa (Orsim) Brawijaya 2019 menuai kritik dari kalangan mahasiwa. Kritik yang dilontarkan beragam, mulai dari tidak adanya transparansi dari panitia hingga kurangnya persiapan.

Chasan Basri, Koordinator Kontingen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) mengatakan bahwa gelaran Orsim Brawijaya tahun ini kurang maksimal. Menurut dia, persiapan panitia  mepet. “Banyak cabang olahraga yang belum terlalu siap tapi sudah dipaksakan untuk digelar. Akibatnya timbul banyak kendala, baik di persyaratan, persiapan lomba, hingga jurinya,” kata Chasan (5/10).

Chasan menambahkan bahwa persiapan dari segi keamanan juga kurang. Menurutnya, panitia kurang berani untuk bersikap tegas kepada suporter yang membuat kekacauan.

Chasan berharap agar gelaran Orsim Brawijaya tahun depan persiapannya lebih dimatangkan. Sebab Orsim merupakan event yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa. “Semoga kedepannya lebih baik dan lebih siap dari segala aspek,” tutur Chasan.

Sementara itu, Lathifa Ananda Nagiotti, Koordinator Kontingen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), mengungkapkan bahwa panitia kurang melakukan komunikasi dengan pihak-pihak fakultas. Menurutnya pengambilan keputusan hanya dilakukan di internal panitia. “Pelibatan kami masih sangat minim. Kami hanya diberi keputusan tanpa mempetimbangkan pendapat dari kami,” tutur Lathifa (5/10).

Lathifa berharap kedepannya gelaran Orsim Brawijaya bisa lebih mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan setiap fakultas. “Kalau hanya mementingkan dari salah satu pihak saja tanpa mementingkan kebutuhan dari fakultas. Otomatis tujuan utama dari orsim tidak tercapai,” ungkap Lathifa.

Gagas Wiratama Suwardani, Koordinator Kontingen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), mengeluhkan tidak adanya transparansi jadwal yang dibuat oleh panitia. Menurutnya panitia tidak memberitahu tentang bagan-bagan pertandingan. “Kedokteran hewan kan ada praktikumnya. Jadi kami membutuhkan bagan tersebut agar jadwal kami tidak bentrok,” ungkap Gagas (5/10). (ais/dic/cup)

(Visited 44 times, 3 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here