Tegur – Panitia menertibkan mahasiswa baru yang terlambat datang dalam rangkaian PKKMABA FISIP UB 2019. (PERSPEKTIF/Yudina)

Malang, PERSPEKTIF – Rangkaian acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMABA) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) 2019 memiliki indikator penilaian kelulusan yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya, terdapat tiga indikator, yaitu kehadiran, etika, dan tugas. Sedangkan pada rangkaian tahun ini, indikator etika diganti dengan kedisiplinan. Hal ini tercantum dalam Pasal 23 Undang-undang (UU) PKKMABA FISIP 2019.

Kevin Yolandri, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) menyatakan bahwa hal ini dilakukan karena indikator etika dinilai terlalu luas dan subjektif, sehingga panitia merasa kesulitan dalam menilai. “Etika merupakan sesuatu yang tidak kita miliki tolak ukurnya. Kita tidak tahu yang dimaksud dengan etika itu yang seperti apa. Karena itu, kami mencari variabel lain yang dapat diukur dengan kegiatan tersebut,” jelasnya (14/8).

Senada dengan Kevin, Chinta Melati Azzara selaku Koordinator Divisi Fasilitator (CO Fasilitator) PKKMABA FISIP 2019 mengungkapkan bahwa panitia membutuhkan penilaian yang lebih mengarah pada aturan-aturan pada rangkaian acara PKKMABA FISIP. “(Indikator) Kedisiplinan ini lebih mengarah kepada aturan-aturan,” ucap Chinta.

“Untuk penilaian penugasan dinilai oleh fasilitator kelompok. Sementara kehadiran akan dinilai oleh divisi kesekretariatan, sedangkan kedisiplinan dinilai oleh divisi korlap (koordinator lapangan, red.) internal,” tambahnya.

Lebih lanjut, Fuad Ramadhan selaku Koordinator Korlap Internal PKKMABA FISIP 2019 menjelaskan bahwa setiap pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa baru (maba) FISIP 2019 memiliki bobot yang berbeda-beda. “Contohnya, ketika maba telat, menggunakan atribut tidak sesuai, dan lain-lain, hal itu termasuk dalam pelanggaran ringan. Ketika maba merokok, bawa motor, atau rambutnya dicat, itu termasuk dalam pelanggaran sedang. Sedangkan yang termasuk dalam pelanggaran berat adalah seperti berkata tidak senonoh dan memprovokasi,” jelas Fuad pada Rabu (14/8).

Menanggapi hal ini, Lia selaku maba jurusan Psikologi 2019 mengaku bahwa penilaian kedisiplinan ini mampu memberikan dampak positif bagi maba untuk mematuhi segala aturan yang ada di dunia perkuliahan. “Adanya penilaian mengenai disiplin ini bener-bener bermanfaat. Misalnya, yang bisasanya bangun kesiangan pun diatur untuk datang lebih pagi, sehingga itu bisa menjadi kebiasaan. Jadi, walaupun nanti acara ini selesai kita bisa tetap menerapkan kebiasaan ini untuk kedepannya,” katanya. (ynq/apr/pch)

(Visited 179 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here