Ilustrator : Nur Chandra

Memasuki tahun ajaran baru, para remaja matang yang baru lulus sekolah menengah atas alias calon mahasiswa baru (maba) mulai sibuk mempersiapkan bekal menghadapi sengitnya medan perkulihan. Tak ketinggalan, para bunda sekalian juga yang turut sibuk membantu anaknya untuk mempersiapkan perlangkapan, terlebih mereka yang merantau. Maka sibuklah bunda dan adik-adik calon maba ini.

Pada tulisan ini, penulis masih menyebut para adik-adik ini dengan sebutan “calon” maba, sebab kendati telah dinyatakan diterima di perguruan tinggi, status mereka tetap calon. Namun, hal ini tidak lama, hanya sampai mereka melewati Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK), satu tahapan penting (katanya) yang akan menyambut mereka di gerbang kehidupan perkuliahan. Katanya, belum sah jadi mahasiswa sungguhan kalau belum melewati masa ospek dan segala permasalahan yang timbul di dalamnya.

Ospek bukan sekedar kegiatan abal-abal untuk memeriahkan kedatangan anak baru, kegiatan ini punya payung hukum langsung di bawah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Berdasarkan keputusan No. 38 tahun 2000, dinyatakan bahwasanya pengenalan terhadap program studi dan program pendidikan di perguruan tinggi di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional hanya boleh dilaksanakan dalam rangka kegiatan akademik oleh pimpinan perguruan tinggi. Kemudian, di tahun terpisah, berdasarkan keputusan No. 25 tahun 2014, dijelaskan bahwa tujuan umum ospek adalah untuk “memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru agar dapat lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus, khususnya kegiatan pembelajaran dan kemahasiswaan”. Dilihat dari keputusan tersebut, ospek memiliki tujuan yang mulia, yakni berusaha memberikan petunjuk kepada para mahasiswa baru supaya tidak tersesat di kemudian hari. Namun, terkadang realita memang tidak sesuai dengan harapan.

Corak kebaikan ospek terkadang jarang sekali nampak. Sejauh pengamatan penulis, saat ramai mahasiswa baru sedang melakukan ospek, biasanya ramai juga pemberitaan tentang kesialan ospek. Bingkai media terhadap potret suram ospek tak ayal menyebabkan ketakutan di mata masyarakat, sehingga banyak yang memukul rata seluruh kegiatan ospek di seluruh Indonesia yang dinilai buruk. Ekstremnya, tahun lalu (2018) bahkan ada bunda yang dengan sabar turut mendampingi anaknya ospek (case di kampus penulis). Berdasar case tersebut, rasanya ospek mulai menjadi momok yang ditakuti bukan lagi oleh mahasiswa tetapi juga oleh para bunda. Tapi tenang bunda, tidak usah khawatir sebab tidak semua ospek kejam.

DI BALIK LAYAR OSPEK

Realitanya memang tidak semua kegiatan ospek keras, kejam, dan brutal. Banyak kegiatan ospek yang mendidik dan menyenangkan. Di kegiatan ospek masih banyak malaikat baik yang siap siaga membantu adik-adik maba. Meski memang tidak bisa dipungkiri bahwa masih akan ada kakak-kakak keamanan yang berlagak disiplin; mereka galak hanya untuk empat hari saja. Banyak hal menyenangkan yang bisa ditemukan di ospek, pastinya. Kegiatan empat hari itu akan memberikan kesan yang membekas di hati adik-adik mahasiswa baru sekalian. Percayalah dan mari kita tengok bersama.

Di beberapa universitas (mari kita ambil contoh di kampus penulis) kegiatan ospek tidak dipandang seadanya dan sebelah mata. Ada usaha selama berbulan-bulan lamanya untuk mempersiapkan acara ospek. Bahkan, banyak panitia yang rela tidak pulang ke kampung halaman demi bisa menjamu kalian wahai para adik-adik yang lucu.

 Case ini berdasarkan pengalaman penulis dan ini ditulis supaya bunda tidak risau, bahwa bukan hanya anak bunda yang lelah, kami para wayang ini juga lelah. Pada bulan pertama, riset mulai dilakukan untuk membaca apa yang menjadi “kesenangan” dan kebiasaan adik-adik sekalian untuk menjadi tema kemasan ospek. Para dalang kemudian akan mengambil alih kesibukan. Mereka akan mulai menjelaskan konsep acara kepada para wayang. Setelahnya, kesibukan dimulai.

Tapi percayalah bunda, pendisiplinan adik-adik ini dilakukan demi kebaikan mereka juga. Dalam kegiatan ospek, anak bunda juga tidak akan sendiri, tetapi akan ada pembagian kelompok yang akan memiliki masing-masing satu Guardian atau kakak pendamping yang akan bertanggung jawab dengan kegiatan adik-adik mahasiswa selama ospek. Para Guardian ini akan menjaga anak bunda dengan sepenuh hati. Terkait asupan gizi, bunda juga tidak perlu khawatir, sebab semua ospek memiliki pakar dapur yang akan menyediakan persediaan pangan yang memadai bagi seluruh anak yang kami jaga selama empat hari. Kalau anak sakit, kami memiliki dokter dan suster yang tidak membentak jika adik-adik mahasiswa sakit, yang rela mempelajari obat-obatan sederhana dan pertolongan pertama demi kesehatan adik-adik calon maba.

Sadar jika citra ospek selalu kaku dan kejam, penggubahan pun dilakukan dengan tidak menyalahi aturan Dirjen Kemendikbud. Bulan-bulan kami lalui dengan penuh persiapan dan pertimbangan agar kemasan ospek penuh dengan keceriaan. Kami akan ajarkan anak bunda mengabdi pada masyarakat dengan memberikan bantuan kepada yang tidak mampu, kami akan berikan bekal masa depan dengan msengundang pembicara yang tidak membosankan, dan kami pun akan menutup acara dengan hiburan untuk melepaskan segala penat dan lelah.

Maka, sejatinya percayakan adik-adik mahasiswa ini kapada kakak-kakak ospek. Bunda tidak perlu lagi mendampingi sebab ada kami yang akan mengantikan peran bunda. Meski tidak bisa memberikan kenyamana dan kasih sayang seperti bunda, tapi kami akan berusaha memperdulikan mereka layaknya kakak yang baik. Percayalah bahwa ospek bukanlah momok yang perlu ditakuti. Justru kegiatan ospek ini perlu sebab kegiatan ini bisa membantu anak bunda untuk beradaptasi dan membuka wawasan cakrwala baru terkait masa depan.

Diajeng Ayu Putri Sukandi Arum Buwana, Mahasiswi tahun ke-4 Universitas Atma Jaya Yogyakarta jurusan Komunikasi Massa dan Digital.

(Visited 87 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here