*Oleh: Adillah Anggraini

Aku memijat pelipisku pelan. Melepas kacamata minusku. Aku tahu, bahwa rasa pusing yang menyerangku tidak akan hilang kecuali aku bawa tidur. Jam menunjukkan bahwa saat ini tengah malam.

Aku yang tengah merevisi skripsiku harus terhenti sebentar, menatap tumpukan dokumen yang memiliki coretan merah sana-sini. Marah? Iya, aku mengerjakannya hingga rela mengorbankan tidurku. Namun naas, dosen pembimbingku tak membiarkan aku tertidur pulas saat ini.

Kata-katanya masih terngiang dikepalaku, ketika ia memberikanku kesempatan untuk berkonsultasi lagi tentang skripsi di hari esok, itu berarti hari ini. Jarum panjang pada jam tengah menunjuk ke angka tiga, sementara jarum pendeknya tetap berada di angka dua belas.

Aku frustasi. Tekanan banyak menghadangku. Teman-temanku yang mulai melakukan prosesi wisuda, bahkan beberapa ada yang sudah bekerja, dari tetangga, dan saudara-saudaraku. Ibuku selalu mencoba menenangkanku dan mengatakan, bahwa aku telah berjuang dengan baik dan tak perlu terburu.

Tapi tidak! Aku belum cukup baik! Buktinya masih banyak orang yang mencemoohku.

Aku nyaris menangis lalu tetiba sekelebat memori melintasi pikiranku. Wajah Bapakku yang tersenyum.

Aku masih mengingat saat pertama kali pengumuman seleksi perguruan tinggi muncul dan namaku tercantum disana. Aku mengabari Bapak dan Ibuku dengan sumringah ditambah sedikit tangisan haru, aku mengucapkan bahwa aku lulus seleksi. Aku mencium kedua tangan mereka.

Setelah itu, mereka rela merepotkan diri membantuku berpindah kota karena aku diterima di Universitas yang berada di kota lain. Membeli setiap barang yang kuperlukan, walaupun aku tahu uang mereka bahkan tak sampai cukup untuk membiayai kepindahanku.

“Kamu tugasnya belajar. Masalah uang biar Bapak yang urus. Jangan khawatir”

Sejak saat itu aku menekadkan diri agar belajar dengan rajin. Mendapatkan nilai akhir semester yang cukup aku banggakan untuk bercerita ke orang tuaku. Terutama Bapak.

“Bapak! Aku mendapatkan IP 3.8!” kabarku kepada Bapak. Kalian tahu apa jawaban tulus dari Bapakku?

“Alhamdulillah, Nak. Kalau nilaimu bagus Bapak jadi makin semangat kerjanya. Nanti waktu lIburan pulang ya.. Bapak buatkan sop ayam kesukaanmu.”

Selalu saja begitu di setiap akhir semester.

Ah, aku jadi rindu sop ayam ala Bapak.

Tapi tahun lalu, saat aku mendeklarkan diri akan lulus 3.5 tahun, mendadak membeku. Diriku terguncang dengan kuat kala mengetahui bahwa Bapak telah meninggal. Bapak pergi bahkan belum sempat aku tunjukkan ijazah kelulusan dan gelar dibelakang namaku.

Kalau bisa dibilang tahun 2017 adalah tahun terburukku. Bapakku pergi meninggalkan sejuta kenangan baik yang bahkan belum sempat kupersiapkan hati ini untuk menerima kenyataannya.

Setahun aku terguncang karena hal ini. Aku melampiaskan semua kesedihanku dengan tidak berkuliah.

Karena ketika aku berkuliah aku teringat akan Bapak.

Bapak yang bekerja keras untukku. Memeras peluh untukku. Tersenyum seakan semua baik-baik saja untukku. Bapak yang selalu lihai dalam memasak untukku. Aku merasa kecewa dengan diriku sendiri karena belum bisa mewujudkan impian terbesarnya yaitu melihat putrinya menjadi sarjana.

Tepat pertengahan 2018, aku tersadar. Almarhum Bapak tidak ingin aku seperti ini. Tidak ingin aku terpuruk. Bapak ingin melihatku berdiri tegak dengan kebaya dan toga kelulusan. Kepergian Bapak adalah takdir yang tak bisa dielak. Maka, dengan hal itu aku memutuskan utuk berdamai dengan takdir.

Aku memutuskan untuk melanjutkan skripsiku, berusaha lulus. Perjuanganku terus berlanjut hingga di tahun 2019 ini.

Bapak memang tidak ada disini. Namun, memorinya hidup dihatiku. Aku sudah ikhlas akan kepergian Bapak.

Bapak. Bapak. Bapak

Aku mendudukkan diriku. Memasang kembali kacamataku dan menatap layar putih laptop. Kalau aku hanya kalah karena setumpuk dokumen, bagaimana Bapak yang dulu rela bekerja untuk menyekolahkanku.

Aku melanjutkan kata demi kata dalam skripsiku sambil membayangkan senyum Bapak yang tentunya akan aku terus bawa di dalam memoriku hingga kesuksesan menemuiku, saat akhirnya aku bisa bertemu Bapak kembali.

Dan akan aku tanamkan ke benakku, jika aku sedang malas mengerjakan skripsi maka aku akan ingat Bapak! Apapun yang terjadi!

Aku iri pada mereka yang masih dapat semangat langsung dengan suara kedua orang tuanya. Mendapat tepukan halus bahkan perhatian manis saat mengerjakan skripsi. Tapi aku tahu ada yang akan aku dapatkan saat aku berhasil menyelesaikan skripsiku nanti.

Sebuah kelegaan ketika tahu bahwa mimpi Bapak akan terwujud.

PENULIS MERUPAKAN MAHASISWa psikologi, UNIVERSITAS BRAWIJAYA ANGKATAN 2018.

(Visited 18 times, 2 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here