Ilustrator: Patricia C H

Malang, PERSPEKTIF  Wisuda merupakan tahap terakhir bagi mahasiswa untuk menyelesaikan masa studi di perguruan tinggi. Wisuda juga menjadi salah satu agenda wajib perguruan tinggi untuk melepas mahasiswanya, tak terkecuali di Universitas Brawijaya (UB). Di UB sendiri, agenda wisuda diadakan satu bulan sekali dengan jumlah peserta sekitar seribu mahasiswa di setiap periode.

Hal ini disampaikan oleh Kotok Gurito, Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Kearsipan dan Hubungan Masyarakat (Humas) UB. “Wisuda itu dijadwalkan setiap bulan, bisa juga sebulan dua kali bergantung dari peminat atau pendaftar. Itu kuotanya seribu,” ungkapnya (25/2). Lebih lanjut, Kotok menjelaskan bahwa dalam setahun UB melaksanakan wisuda sekitar dua belas hingga tiga belas periode. Hal ini diakuinya karena mahasiswa pendaftar wisuda di UB sangat banyak.

Berdasarkan data tahun 2018, pendaftar wisuda di UB mencapai sekitar 12.000 mahasiswa. Adanya wisuda setiap bulan dilakukan sesuai dengan perhitungan jumlah mahasiswa UB. Hal ini dibenarkan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik (WR I) UB, Aulanni’am. ”Satu bulan diadakan wisuda satu kali, tapi kadang-kadang bisa dua kali. UB mahasiswanya kan 13.000-an, jadi dalam satu tahun habis. Satu tahun hampir 12.000 lebih yang diluluskan,” jelasnya saat diwawancara pada Rabu (27/2).

Selain kuota, pelaksanaan wisuda di UB juga tidak terlepas dari biaya yang harus dibayarkan mahasiswa. M. Taufan Nurichsan, salah satu Staf Bagian Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB, mengatakan bahwa ada dua biaya yang harus dibayarkan oleh mahasiswa untuk mengikuti wisuda, yaitu biaya operasional sebesar Rp. 350.000,00 dan biaya pembelian toga sebesar Rp.150.000,00. “Biaya Rp. 350.000,00 untuk pendaftaran wisuda itu sama semua untuk mahasiswa. Itu kebijakan dari rektorat,” jelasnya (4/3).

Taufan juga menjelaskan bahwa biaya wisuda di tiap fakultas bisa saja berbeda, bergantung pada kebijakan dari masing-masing fakultas. Perlunya biaya tambahan terjadi apabila ada seremonial wisuda dari pihak fakultas maupun keperluan lain.

Lebih lanjut, Taufan menerangkan bahwa mahasiswa jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dibebaskan dari biaya operasional wisuda dan hanya membayar biaya pembelian toga. Hal ini karena biaya operasional sudah termasuk dalam Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mahasiswa bayarkan. “Kalau di FISIP sendiri, mahasiswa jalur SNMPTN dan SBMPTN dibebaskan dari biaya operasional wisuda karena sudah masuk di UKT. Kalau mahasiswa jalur Seleksi Mandiri UB (SMUB)  harus tetap membayar biaya operasional wisuda,” jelasnya.

Hal ini juga dibenarkan oleh Siti Kholifah, Wakil Dekan I (WD I) FISIP. Ia menuturkan bahwa mahasiswa jalur SNMPTN dan SBMPTN tidak perlu membayar biaya operasional wisuda. “Mulai angkatan tahun 2013 kalau tidak salah, mahasiswa jalur SBMPTN dan SNMPTN itu tidak bayar jadi hanya bayar biaya toga. Tapi kalau jalur mandiri tetap harus bayar semuanya,” tuturnya (27/2).

Ditemui terpisah, Lulut Endi Sutrisno selaku Kepala Bagian (Kabag) Anggaran dan Perbendaharaan UB ketika ditanya mengenai detail nominal biaya wisuda hanya menjawab bahwa pembiayaan wisuda sudah masuk dalam UKT (5/3). “Kalau UKT itu ya sudah tidak ada pungutan apapun, hanya UKT itu saja. Jadi dari semester satu sampai lulus ya bayar UKT itu saja. Disitu sudah termasuk biaya praktikum, biaya ospek, biaya wisuda. Biaya wisuda memang tidak dirincikan biaya penggunaannya untuk apa, tapi ya sudah masuk di UKT,” tambahnya.

Ketika ditanya mengenai perbedaan biaya wisuda, Lulut tidak bisa menjawab dengan pasti terkait hal tersebut. “Sepengetahuan saya, sudah tidak ada penarikan biaya lagi kalau sudah UKT. Tapi kalau jalur mandiri (SMUB) ini saya perlu klarifikasi dulu,” paparnya.

Senada dengan Lulut, Aulanni’am juga menyatakan kurang tahu perihal perbedaan biaya wisuda. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa biaya wisuda harus sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada. “Itu sudah ditentukan seperti kita bayar SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan). Sudah ada aturan dan SOP, jadi setiap fakultas tidak akan berbeda. Mungkin yang berbeda setiap fakultas boleh bikin wisuda sendiri. Itu fakultas yang menentukan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Aulanni’am menjelaskan terkait biaya wisuda untuk mahasiswa jalur Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD). “Kalau mahasiswa SPKPD itu dapat dana khusus sendiri. Mereka kan ada yang lewat jalur tertentu, ada yang jalur PSLD (Pusat Studi dan Layanan Disabilitas) itu sendiri. Jadi sekiranya biayanya sama, grade-nya akan sama. Tetapi fasilitas dapat lebih,” jelasnya.

Untuk mendapatkan data lebih, awak Perspektif mencoba untuk mewawancarai beberapa pihak fakultas yang ada di UB. Syaifuddin, Kepala Sub Bagian Administrasi Akademik Fakultas Teknik (FT) UB mengatakan bahwa di FT UB tidak memungut biaya wisuda. “Kita tidak ada penarikan biaya wisuda. Dulu memang kita ada pelepasan mahasiswa di fakultas tapi sekarang sudah tidak ada karena di fakultas lain juga sudah tidak ada. Dulu biaya pelepasan sebesar Rp. 350.000 kalau tidak salah, itu sudah termasuk toga ya,” jelas Syaifuddin (12/3).

Suroto (19/2), Kepala Bagian Akademik Fakultas Hukum (FH) UB, menjelaskan bahwa di FH mahasiswa jalur SNMPTN dan SBMPTN tidak dikenakan biaya wisuda, hanya mahasiswa jalur SMUB saja. Akan tetapi, ia tidak menjelaskan berapa jumlah nominal yang perlu dibayarkan. “Mahasiswa yang masuk jalur regular (SNMPTN-SBMPTN) kalau di FH tidak perlu bayar lagi untuk wisudanya. Jadi wisuda itu yang bayar hanya dari jalur mandiri (SMUB). Soalnya mahasiswa yang jalur mandiri itu bukan UKT satuannya,” jelasnya.

Menanggapi perbedaan biaya wisuda, Dita Permatasari, mahasiswa Program Studi Perpajakan angkatan 2011 Fakultas Ilmu Administrasi (FIA),  merasa tak keberatan dengan biaya wisuda yang harus ia bayarkan ke universitas. Mahasiswa jalur SMUB ini mengungkapkan bahwa biaya tersebut sudah menjadi kewajibannya. “Biaya wisuda mandiri untuk universitas kena Rp. 550.000,00 untuk fakultas bayar Rp. 350.000,00 karena saya wisuda di fakultas juga. Saya tidak ada tanggapan yang serius sih, kalau memang itu yang harus saya bayarkan karena perbedaan dari mandiri (SMUB) dan jalur lain ya mau bagaimana lagi, jadi ya saya bayar saja,” ungkapnya saat ditemui pada acara gladi bersih wisuda (22/2).

Yulmitha Nurtriana, mahasiswa FISIP jalur SBMPTN yang diwisuda pada hari yang sama dengan Dita, juga merasa tak bermasalah dengan biaya wisuda tersebut. “Aku dari SBMPTN ya, itu hanya bayar Rp. 150.000,00 jadi tidak terlalu keberatan karena itu memang untuk bayar toga,” tutur mahasiswa Jurusan Sosiologi angkatan 2013 itu (22/2).

Sementara itu, terkait mekanisme pembayaran wisuda, Taufan menjelaskan bahwa pembayaran tersebut dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa dengan melakukan transfer langsung ke rekening rektor. Kemudian bukti pembayaran atau bukti bebas biaya bagi mahasiswa jalur SNMPTN dan SBMPTN dapat diserahkan ke bagian akademik atau kemahasiswaan fakultas. Nantinya pihak fakultas akan menyetorkan bukti tersebut ke rektorat untuk mendapatkan porsi kursi dalam prosesi wisuda di Samantha Krida beserta undangan wisuda. (ptr/dat/wnd)

(Visited 501 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here