Rangkaian acara Switch off Brawijaya berpusat di bundaran rektorat pada Sabtu (30/3). (PERPEKTIF/ Suci)

Malang, PERSPEKTIF – Kementerian Lingkungan Hidup Eksekutif Mahasiswa (EM) Universitas Brawijaya (UB) kembali menggelar acara Switch Off Brawijaya di Bundaran Rektorat UB pada Sabtu (30/3). Diikuti oleh belasan fakultas UB, kegiatan ini berlangsung satu jam dari pukul 20.30-21.30 WIB, ditandai dengan pemadaman lampu di gedung-gedung fakultas.

Renji Eko Sandi, Menteri Lingkungan Hidup EM UB 2019, mengungkapkan jumlah fakultas yang mengikuti acara ini meningkat dari tahun kemarin. “Sekarang sekitar lima belas fakultas, termasuk Eksekutif Keluarga Mahasiswa (EKM) UB Kampus 3 di Kediri. Soalnya ingin lebih bisa mengajak banyak fakultas juga,” ungkap Renji.

Acara Switch Off Brawijaya tahun ini tediri dari empat rangkaian acara. “Kami mulai dengan talkshow tentang cara bijak menggunakan energi itu seperti apa, salah satunya mematikan lampu. Lalu setelah itu ada stand up comedy yang mengangkat isu lingkungan juga, pembacaan puisi oleh PSLD (Pusat Studi dan Layanan Disabilitas), dan dilanjutkan dengan teater oleh FIB (Fakultas Ilmu Budaya),” jelas Renji

Salah satu penampil, Andi Zulfajrin Syam, mahasiswa difabel jurusan Hubungan Internasional (HI) 2017 mengungkapkan tanggapan positifnya terkait acara ini. “Menurut saya acara ini merupakan wadah yang memberikan pemahaman bahwa kita harus menghargai lingkungan. Lingkungan apa pun itu. Dan saya juga berterima kasih sekali teman-temen EM yang mengadakan acara ini karena juga melibatkan temen-temen difabel,” ungkap Fajrin.

Dalam acara tersebut, Fajrin membawakan puisi yang bertajuk Keseimbangan. Melalui puisi tersebut ia berpesan agar manusia lebih menghargai dan berhenti mengeksploitasi alam. Hal ini sejalan dengan pesan yang ingin diungkapkan melalui acara ini. “Pesannya agar kita lebih bijak lagi menggunakan energi. Sebenernya kami ingin membuat pemahaman tentang energi itu seperti apa gitu,” jelas Renji.

Kesan tersebut pun  dirasakan oleh Fajrin. “Bagaimana kita agar lebih hemat menggunakan listrik, karena kalau boros kita tidak pernah tahu energi ini akan selalu ada atau tidak. Salah satunya belajar hemat dan belajar mendaur,” jelas Fajrin

Selama berjalannya acara Renji mengaku menemui beberapa kendala salah satunya adalah cuaca. “karena menggunakan ruang terbuka, kendalanya kami tidak tahukondisi cuaca seperti apa. Jadi ketika cuaca kurang bersahabat, acaranya juga jadi molor. Seperti tadi, karena hujan acara baru mulai pukul 20.00 WIB harusnya mulai pukul 18.00 WIB,” pungkasnya. (ayu/ sci/ptr)

(Visited 27 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here