Oleh : LexI*

Tak apa merasa lara dalam kelap malam kejora, tentang kamu yang beraksara yang berhasil berbuat huru-hara, ternyata kamu bukan muara

 

Tuan, kau pandai sekali menoreh luka dihati, berkali-kali membuat semesta hilang kendali dan gadis ini seakan tuli, terhasut akan buaian pembuli, penjajah rasa melankoli, bersembunyi dalam paras bernyali

 

Senyum manismu menipu, terlihat lembut menenangkan yang pada akhirnya berubah menjadi bentakan. Namun anehnya gadis ini masih mau mendengarkan

 

Tuan, luka yang kau gores ini masih basah masih berdarah, kepingan itu kembali kau cacah lagi dan lagi sampai terbelah

 

Demi langit demi lautan, sampai hati kau berbuat demikian, gadis ini barusaja kau hempas dari ketinggian dan kau seenaknya saja mengumumkan bahwa kau menemukan tempat berpulang, gadis impian yang kau idamkan

 

Beranjak pergi dan mengatakan bahwa kau adalah korban dari kisah ini. Aku tak tahu, ternyata kau adalah pembohong terbesar pada abad ini.

 

Namun sudahlah, cerita telah usai lagipula akupun tak mampu bertahan. Mari saling melupakan seperti badai yang baru saja usai, meninggalkan luka dan kerusakan.

 

Semoga kau bahagia, dengan dia yang kau bangga-banggakan sebagai tempatmu berpulang. Jangan hiraukan lara ini, pahit kurasa jauh lebih menenangkan.

 

Untukmu yang sudah sampai pada tujuan, jangan coba kau datang kembali,  mengetuk pintu usang yang sudah pecah belah ini. Pun jika kau kembali, jangan heran tak ada yang menunggumu lagi.

 

Karena hati itu sudah hilang, terbelenggu lara yang dibungkus oleh luka sayat tak tertahankan.

 

Aku izin pamit undur diri,  bukan untuk mengakhiri hidup ini. Tetapi untuk mengenyahkanmu sebagai mimpi burukku.

 

Tuan muara, lakukanlah sesukamu.

Karena bahkan, neraka lebih indah dari pada muaramu.

PENULIS MERUPAKAN MAHASISWA UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK.

(Visited 40 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here