Oleh : Why Don’t We?

Keindahanmu membungkam jiwaku

Seperti aku terdiam melihat amarah ayah

Kau hanya diam tapi seolah menarikku ke dalam duniamu

Seperti benda fengshui yang menarik keberuntungan

Rupamu memainkan sukmaku

Seperti kura-kura yang memainkan kepalanya

Kaku dan ragu namun ingin melihat dunia luar-penasaran

 

Aku diselimuti dirimu, kau bagai penghangat di musim dingin

Aku takzim seketika, saat kau buka mulutmu dan mengucapkan inginmu

Kau bagai perompak yang menodong nahkoda

Aku nahkodamu yang tak melawan karena aku ingin kau todong

Rambutmu indah dan panjang, katanya untuk menjerat hatiku

Perasaanku padamu bagaikan usia-tak dapat disembunyikan

Tak apa tak bersatu sekarang, katanya bersakit dahulu lalu senang kemudian

Ada baiknya berpisah dulu, kelak kita pasti bertemu dan bersatu

PENULIS MERUPAKAN MAHASISWI  ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(Visited 62 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here