Wawancara- Awak Perspektif sedang mewawancarai Ketua Pelaksana Pemira UB 2018 (01/11). (PERSPEKTIF/Ayu)

MALANGPERSPEKTIF Pemilihan mahasiswa raya (Pemira) Universitas Brawijaya (UB) 2018 memberikan hak pilih bagi seluruh mahasiswa termasuk kaum difabel. Hal tersebut menjadi tuntutan bagi panitia Pemira untuk menyediakan fasilitas pendukung dan mekanisme khusus bagi mahasiswa difabel dalam proses pemilihan.

Petri Maryati, mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) memaparkan terkait kebutuhannya akan mekanisme khusus dalam proses pemilihan. Petri menyarankan agar panitia menyediakan surat suara berhuruf braille  kepada mahasiswa tuna netra saat Pemira berlangsung. “Meskipun tidak secara penuh, setidaknya ada huruf yang bisa diraba pada surat suara,” ujar mahasiswi low vision tersebut.

Senada dengan Petri, Saphira Kusbandiyah, mahasiswi tuna daksa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) juga menyarankan panitia menyediakan akses khusus. Bidang miring adalah aspek yang perlu diperhatikan untuk aksesibilitas mahasiswa tuna daksa. “Paling aksesnya dipermudah. Jangan yang naik-naik.” tutur mahasiswi jurusan Statistika angkatan 2018 tersebut.

Menanggapi hal ini, Mochamad Irfan Udin, Ketua Pelaksana Pemira UB, memaparkan bahwa saat ini proses penyusunan mekanisme Pemira dan pengadaan fasilitas khusus untuk mahasiswa difabel masih dalam tahap pembahasan dan perencanaan (1/11).

“Kami masih sharing dengan pihak-pihak terkait. Kami kemarin bertemu dengan Forum Mahasiswa Peduli Inklusif (Formapi) untuk berdiskusi tentang apa saja yang dibutuhkan mahasiswa difabel. Seperti pemberian celah lebih untuk mahasiswa tuna daksa dan menyediakan aplikasi braille pemilu,” paparnya.

Salah satu mekanisme yang turut dikaji adalah keikutsertaan pendamping mahasiswa difabel untuk membantu saat proses pemilihan. Panitia berencana mengizinkan orang terdekat mahasiswa difabel untuk membantu mereka. Hal ini juga bertujuan untuk menjauhkan terjadinya hal-hal tak diinginkan yang berkaitan dengan asas pemilihan.

“Jadi, kami masih mengkaji keikutsertaan orang kepercayaan mahasiswa difabel dalam pemilihan. Hal tersebut akan merealisasikan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (luber jurdil) dan netralitas suara mereka akan terjamin. Jika dari orang lain atau panitia, kami mengkhawatirkan netralitasnya,” jelas mahasiswa FMIPA tersebut.

Terkait pemaparan kejelasan mekanisme dalam pemilihan nanti, panitia akan melakukan sosialisasi dalam waktu dekat. “Kami akan mensosialisasikan kegiatan Pemira ini secepatnya kepada seluruh mahasiswa UB, terutama mahasiswa difabel. Untuk mahasiswa difabel monggo kami (red: Panitia Pemira UB 2018) persilahkan ikut. Panitia juga berusaha agar seluruh mahasiswa memperoleh akses untuk berpartisipasi dalam  kegiatan ini,” tutupnya. (mim/ais/dmn)

(Visited 118 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here