Oleh : Sari Rimayanti*

Perlahan aku melangkah melewati ribuan salju yang tengah menghujani kota London. Dinginnya salju serta gelapnya hari tak mengurangi semangatku untuk melaju kearah impianku. Hari ini merupakan hari besar untukku. Konser musik klasik yang sangat aku impikan sejak kecil terjadi disaat usiaku genap 20 tahun.

            Aku tersenyum saat membayangkan diriku yang akan bermain musik di panggung megah kota London ini. Aku melangkahkan kakiku bersama kedua orang tuaku menuju gedung perhelatan. Menggandeng kedua tangan mereka dengan hati senang memasuki gedung perhelatan.

            Ibuku menepuk pelan pundakku, memandang kearahku dengan perasaan bangga. Ia memainkan tangannya di depanku, aku tersenyum saat mengetahui arti yang dimaksud. Aku membalas isyarat ibuku seraya mengucap tanpa suara.

            “Ibu harap hari ini lancar untukmu, sayang. Kami akan melihatmu dibangku penanton.”

            “Terima kasih, ibu. Aku pergi dulu.”

            Aku melangkah perlahan menuju ruangan dibalik panggung megah ini. Menuju ruanganku sendiri yang berada dibalik pintu bertuliskan “Pianist”. Saat aku membuka pintu ada seorang wanita cantik yang tengah duduk di dekat meja riasku. Dia melangkah kearahku dengan sebuah senyuman hangat. Aku melihat kearah gerakan tangannya dan membalasnya dengan sebuah senyuman ramah

            “Halo, aku pendampingmu hari ini. Namamku Mona, salam kenal, Anne.”

            Aku duduk di bangku meja rias. Aku memandang kearah Mona dan mulai memainkan tanganku. “Salam kenal, Mona. Boleh aku minta bantuan untuk berdandan?”. Mona menghampiriku dan mulai merias wajahku untuk konser kali ini.

            Aku tersenyum senang setiap kali memikirkan hari ini. Jika aku bisa bercerita sedikit, aku adalah seorang tuli­. Seorang tuli tidak bisa mendengarkan suara, lalu kenapa aku bisa menjadi seorang pianis? Karna aku belajar untuk mengejar impianku.

            Saat itu aku berumur empat tahun dan sudah mengetahui segala hal tentang music hingga aroma music itu sendiri. Aku mengenal mereka seakan mereka adalah teman lamaku yang sudah lama tak berjumpa. Aku mengenal musik berawal dari ayah yang sejak dini sudah diajari dasar-dasar bermain salah satu alat music yang saat ini menjadi sahabat dekatku, piano. Aku sangat mencintai dunia ini, tapi sayangnya pendengaranku harus direbut saat umurku berusia delapan tahun. Saat itu aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan gendang telingaku menjadi rusak dan sebab itulah yang membuatku tak bisa mendengar sampai sekarang.

Nyawaku seakan ditarik keluar saat sang dokter menyatakan aku tuli. Duniaku akan menjauh, dan aku tidak bisa hidup tanpa mereka. Aku tak bisa mendengar lagi melodi-melodi indah dari sahabatku. Aku akan sendirian dan merasa jatuh. Bahkan dua bulan selang kecelakaan itu terjadi, aku mengurung diriku bersama sahabatku. Memainkan setiap tuts-nya untuk mendengar kembali melodinya. Sayangnya itu sia-sia saja, aku tidak bisa mendengar suara apapun. Duniaku bahkan lebih abu-abu dari yang kalian kira, seakan kebahagiaanku ikut menghilang bersamanya.

Segala pengobatan telah dilakukan, kedua orang tuaku sangat sedih memandang keadaanku yang sangat buruk. Aku tidak bisa mendengar lagi, aku depresi akan itu. Aku hanya bisa bersembunyi dibalik selimut, tidak ingin lagi mendekat kearah sahabatku. Hingga umurku memasuk usia remaja, aku tetap merasa tak bisa melanjutkan hidup. Bertahun-tahun aku mengalami depresi membuatku berpikiran mengakhir hidup. Aku masih ingat akan dukungan kedua orang tuaku, tapi ini juga sagat menyiksa bagiku. Beberapa kali orang tuaku membawa diriku ke dokter jiwa untuk memperbaiki kesehatan mentalku yang tiap tahun tiap memburuk.

Sampai pada usiaku menginjak umur 18 tahun, aku mengenal seseorang yang membantuku bangkit dari keterpurukanku. Ia seorang yang kehilangan pengelihatannya, ia adalah seniman. Ia bercerita padauk bahwa mimpinya adalah sebagai seorang pelukis terkenal, menjadi penerus karya Vincent Van Gogh. Namanya adalah Kevin.

Kevin kehilangan kedua matanya karna sebuah penyakit, hingga ia harus merelakan penglihatannya. Ia juga mengalami depresi berat sama sepertiku, tapi dia bisa maju dan tidak terpuruk sepertiku. Bagaimana aku bisa tahu kisahnya? Dia mengatakan padaku tentunya dengan bantuan seseorang.

Dia bercerita motivasi hidupnya adalah ibunya. Dia mengatakan juga bahwa dia akan mengubah lembaran hitam dalam pengelihatannya menjadi sebuah kanvas yang bisa mengekspresikan apa yang ingin dia lihat. Dia mengatakan semua mimpinya dengan ekspresi yang sangat indah, seakan dia tidak kekurangan hal satu pun. Aku juga masih mengingat kalima yang aku tangkap darinya, “jika pengelihatanku tidak bisa, aku masih memiliki empat indra, aku masih bisa mencium serta meraba sesuatu untuk melukis.”

Kevin temanku, yang saat itu menjadi orang yang tidak bisa melihat apapun menjadi orang yang bisa melihat segala hal yang tidak bisa dilihat orang dengan imajinasinya. Dia menjadi pelukis terkenal saat ini, dan menjadi sahabat keduaku setelah piano.

Sosok Kevin yang membantuku bangkit dari keterpurukanku. Aku masih memiliki empat indra lainnya. Dari pemikiran itulah aku mulai belajar musik­­ melalui getaran yang diciptakan oleh alat music, aku juga masih bisa melihat sebuah not yang menciptakan melodi. Aku tidak perlu mendengar melodi, aku hanya butuh melihat dan merasakannya. Perjalanan karir musikku dimulai dari sini, kedua orang tuaku juga mendukung keinginanku ini. Aku tersenyum bangga akan diriku yang bisa bangkit dari keterpurukan.

Mona menepuk bahuku perlahan, dia memainkan isyarat tangannya bahwa riasanku sudah selesai dan sebentar lagi aku akan naik keatas panggung untuk tampil. Aku mengangguk dan memandang diriku kearah cermin didepanku. Aku bangga akan diriku hari ini. Aku tersenyum mantap dan bangkit dari dudukku dan berjalan menuju arah panggung.

Hingga pembawa acara memanggil namaku, aku melangkah memasuki panggung, memandang keseluruh penonton dan tersenyum bangga. Inilah diriku saat ini. Diriku yang bisa membanggakan kedua orang tuaku, temukan sebuah motivasi untuk bangkit.

END.

PENULIS MERUPAKAN MAHASISWA AKTIF ILMU KOMUNIKASI UB

(Visited 29 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here