Proyek pembangunan rusunawa di sebelah gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (PERSPEKTIF/Arliza)

Malang, PERSPEKTIF – Universitas Brawijaya (UB) kembali membangun Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Pembangunan rusunawa terletak di sisi utara gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poitik (FISIP) UB. Rusunawa tersebut rencananya akan diperuntukkan bagi mahasiswa asing dan domestik.

Anthon Erfani selaku direktur Badan Usaha Non Akademik (BUNA) menjelaskan bahwa pembangunan rusunawa merupakan perwujudan dari bantuan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR). Pembangunan rusunawa ini sudah direncanakan sejak kepemimpinan rektor Mohammad Bisri.

Anthon juga mengungkapkan bahwa bantuan yang diberikan KemenPUPR merupakan respon berhasilnya pembangunan rusunawa di Dieng. “Kami dapat bantuan rusunawa di Dieng, sekarang sudah dioperasikan. Kemudian UB dianggap oleh PU mampu untuk mengelola dengan baik. Jadi mereka puas akhirnya kami ditambah lagi (red- rusunawa),” terangnya.

Terkait dengan peruntukan penghuni rusunawa, Anthon mengatakan rusunawa akan digunakan untuk mahasiswa UB baik asing maupun domestik. “Untuk secara detailnya masih belum kami bahas. Harapannya nanti rusunawa itu bisa untuk semua mahasiswa UB baik S1, S2, maupun S3,” paparnya. Sama halnya dengan peruntukan rusunawa, sistem sewa yang akan digunakan juga masih dalam pembahasan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Siti Marpuah, Kepala Sub Bagian (Kasubag) Pengadaan UB. Ia menuturkan bahwa belum tahu mengenai peruntukan maupun pengelolaannya. “Kalau untuk rusunawa yang di sini (red- samping FISIP) masih belum tahu nanti peruntukkannya, karena nanti akan ada pengelolanya sendiri.”

Sementara itu, Anang Sujoko, Wakil Dekan (WD) II FISIP menjelaskan bahwa pembangunan rusunawa diperuntukkan bagi mahasiswa asing dan dosen asing. Hal ini ditujukan untuk mendukung capaian student international untuk menuju UB berstandar internasional. Ketika ditanya mengenai koordinasi pihak dekanat dengan rektorat terkait lokasi tersebut, Anang mengatakan bahwa itu ranah Dekan. “Kalau itu urusannya langsung pak Dekan dengan rektorat.”

Terkait pemilihan lokasi yang bertempat di sisi utara FISIP, menuai respon dari mahasiswa. Hullike Ashri Dindranila, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017 mengaku kesulitan mencari parkir di sekitar FISIP sejak ada pembangunan rusunawa. “Kalau menurutku merugikan karena anak-anak yang bawa mobil itu jadi susah parkirnya. Kadang numpuk atau mereka  nggak dapat parkir di FISIP. Jadi harus numpang di fakultas lain atau mungkin juga di luar,” keluhnya.

Senada dengan Hullike, Frita Alif mahasiswa Psikologi 2015 mengungkapkan bahwa ia harus parkir hingga Fakultas Teknik (FT). “Kalau benar-benar nggak ada parkiran harus muter lagi dan terpaksa parkir di dekat-dekat Teknik Elektro hampir ke Teknik Mesin. Jadinya sekarang agak jarang bawa mobil mending naik ojek online karena ngga ada parkiran. FISIP sebaiknya memikirkan alternatif lain buat mahasiswa yang bawa mobil. Bisa juga gedung C itu dibuat parkir mobil mahasiswa yang layak, jadi ngga hanya dosen saja yang dapat,” terang Frita

Menanggapi hal tersebut, Anthon mengaku tidak tahu menahu jika dulunya lahan tersebut digunakan sebagai lahan parkir. “Saya tidak tahu kalau jadi tempat parkir. Dulu itu, masih tanah kosong. Jadi dibangunlah rusunawa di situ,” ungkap Anthon.

Terkait hal tersebut, Siti Marpuah menegaskan bahwa mahasiswa dari fakultas mana pun berhak parkir di lahan parkir yang disediakan. “Yang jadi masalah, mahasiswa maunya yang dekat dengan fakultasnya. Padahal satu UB ini ya lahannya UB. Tidak bisa itu dikelompok-kelompokkan, semua mahasiswa UB berhak,” tutur Siti. (liz/alf/wnd)

(Visited 256 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here