Gedung B - Tempat yang akan menjadi lokasi pemira FISIP UB 2018 (PERSPEKTIF/ Mitha)

Malang, PERSPEKTIF  – Rangkaian Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) 2018 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) akan segera diselenggarankan. Akhmad Muwafik Saleh, Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) mengeluarkan pemberitahuan pada Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) terkait pelaksanaan Pemira yang wajib menggunakan electronic vote (e-vote).

Muwafik mengatakan bahwa wacana penggunaan e-vote ini sudah ada tahun lalu, namun karena beberapa hal, seperti waktu persiapan yang singkat, akhirnya e-vote tidak jadi diberlakukan. “Jadi DPM tahun kemarin sudah sepakat kalau tahun kemarin itu adalah akhir dari pemilihan manual. Berdasarkan kesepakatan tersebut, tahun ini kami sudah harus e-vote. Universitas itu sudah e-vote, kemudian kegiatan yang dilaksanakan sama (red- Pemira), universitas e-vote, fakultas tidak, lalu apa alasannya?” ungkapnya.

Lebih lanjut, Muwafik juga menjelaskan bahwa sistem e-vote ini diintruksikan untuk menekankan pada efisiensi waktu. “Bayangkan, tahun lalu sampai jam dua belas siang. Itu jauh lebih mahal, dibandingkan dengan semata infrastruktur dan pembiayaan teknis. Keamanan, kemungkinan terjadi konflik, itu kan tidak produktif padahal sama hasilnya. Bahkan bisa jadi tingkat akurasinya lebih akurat ini (red- e-vote),” tegasnya.

Saat dikonfirmasi, Hapiz Daulay, Ketua DPM FISIP UB mengungkapkan, “Iya, dari kemarin pun kami sudah rapat sekali dengan Pak Muwafik. Kemarin pun beliau juga menginstruksikan seperti itu (red- e-vote),” ungkapnya.

Hapiz juga menjelaskan bahwa DPM sangat terbuka terhadap penggunaan sistem pemilihan e-vote ini. Selain efisiensi waktu, tingkat partisipasi Pemira juga menjadi perhatian DPM. “Sebenernya, tujuan kami dari DPM itu utamanya efisiensi waktu. Yang kedua, kami menerima era yang sekarang, era teknologi. Kami juga ingin daya partisipasi mahasiswa bertambah, dan tingkat golput (red- golongan putih) berkurang,” tambah Hapiz.

Meskipun begitu, wacana penerapan e-vote sejauh ini masih pada tahap penggodokan oleh DPM. Ketika ditanya lebih lanjut, Hapiz mengungkapkan bahwa persiapan e-vote sekitar 10%. “Masih persiapan dan penggodokan, kami masih bertanya-tanya ke teman fakultas lain. Selain itu, kami juga masih berdiskusi dengan WD III, dan  rapatkan di internal DPM dulu. Ini masih sekitar 10% persiapannya,” jelasnya.

Menanggapi hal ini, Savyra Diah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017 mengatakan bahwa sistem e-vote nantinya akan lebih efektif daripada sistem manual. “Kalo misalnya tahun ini jadi e -vote, saya setuju. Soalnya menurut saya e-vote itu lebih efektif ya. Kebanyakan dari tahun kemarin itu anak-anak banyak menunggu dan persiapannya terlalu lama.. Sampai ada mahasiswa itu ada yang ngga sabar buat nunggu dan akhirnya ngga jadi milih. Padahal mereka berhak dan punya hak suara,” tutur Savyrah.

Berbeda dengan Savyra, Eleonora Vena, mahasiswa Jurusan Psikologi 2016 merasa bahwa pemilihan dengan sistem e-vote kurang terasa sensasinya. “Kalo aku pribadi mungkin karena belum pernah nyoba pakai sistem e-vote, jadi masih agak mempertanyakan sistemnya seperti apa. Soalnya kalau langsung datang ke TPS, nyoblos langsung itu vibes-nya lebih terasa gitu. Jadi, seperti memang benar-benar niat buat milih rasanya,” tuturnya. (mth/dat/ptr)

(Visited 94 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here