Penyambutan kontingan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-31 pada Senin (3/8) di depan rektorat Universitas Brawijaya (sumber: HUMAS Brawijaya)

Malang, PERSPEKTIF Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-31 telah dilaksanakan pada 28 Agustus sampai 2 September di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pada PIMNAS tahun ini, UB mengirimkan 25 tim dan membawa berhasil membawa pulang 21 medali, yaitu empat medali emas, delapan medali perak, dan sembilan medali perunggu. Acara yang dilaksanakan selama lima hari ini menobatkan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai juara umum. Dengan ini, UB gagal raih target empat kali berturut-turut juara umum PIMNAS.

Berkaitan dengan gagalnya UB menjadi juara umum PIMNAS ke-31, Yusuf Hendrawan selaku Ketua Kontingen UB mengatakan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi. Pertama perubahan peraturan penilaian dan yang kedua tidak dihitungnya capaian peserta PIMNAS. “Sebelumnya saat kami menciptakan hattrick aturannya di setiap kategori ada tiga emas, perak, perunggu. Kalau yang sekarang itu aturannya diubah ke yang lama, hanya ada satu emas, perak, dan perunggu,” jelas Yusuf.

Lebih lanjut Yusuf mengungkapkan apabila peraturan yang digunakan tahun kemarin maka UB dapat menjadi juara umum PIMNAS ke-31. “Kalau merujuk aturan tahun kemarin, otomatis kami juara kan presentasinya ada tiga belas medali. Otomatis yang emas, perak, perunggu itu pasti kami dapat jatah di tiga emas. Jadi paling tidak kami mendapatkan emas, UGM cuma dapat sebelas emas. Tapi saya tidak tahu, kenapa aturan itu tiba-tiba berubah,” jelasnya.

Yusuf menambahkan, “Selain itu adalah capaian peserta yang mungkin tidak diperhitungkankan oleh dewan juri. Jadi sebelumnya itu kami membekali dengan capaian, publikasi jurnal, karya ilmiah yang sudah dipublikasi kan itu otomatis sudah capaian yang paling tinggi. Harusnya itu layak, tapi pada TM (red: Technical Meeting) kemarin peserta tidak boleh memberikan berkas capaian kepada dewan juri,” tambahnya.

Nursiti, salah satu delegasi PIMNAS dari Fakultas Teknik (FT) merasa bahwa persiapan PIMNAS tahun ini masih kurang maksimal, terutama pada saat karantina.“Karantinanya memang cuma tiga hari dua malam. Itu juga dimaksimalkan untuk persiapan upload laporan akhir dan artikel ilmiah. Sehingga persiapan untuk presentasinya kurang,” jelas Nursiti.

Nursiti menambahkan “Setelah Idul Adha diadakan pemantapan presentasi di rektorat. Mungkin karena belum terlalu dikontrol untuk yang pemantapan, ada tim yang seharusnya presentasi tiga kali di depan juri dari UB, hanya presentasi satu kali saja,” tambahnya.

Berbeda dengan Nursiti, Abidzar Al Ghifari, delegasi PIMNAS dari FT menilai singkatnya persiapan bukanlah salah satu faktor gagalnya UB menjadi juara umum. “Saya rasa bukan di ketidaksiapan peserta. Namun, ada pada gagasan atau mungkin presentasi peserta yang masih kurang dapat bersaing dengan universitas lain,” tutur Abi.

Yusuf berharap pada perhelatan PIMNAS tahun depan UB bisa menjadi juara umum kembali. “Harus direbut kembali pialanya, bagaimana pun caranya atau strateginya piala itu harus kembali lagi ke UB. Harapan saya semua fakultas bisa sinergis, bisa kuat semua. Jadi tidak hanya beberapa bidang ilmu, sekarang sudah jenuh kalau itu-itu saja,” pungkasnya.(nid/srt/ptr)

(Visited 36 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here