Oleh: Rafdi Muhammad Habiburrahman

Rintikan hujan membuatku terbangun dengan suasana dingin menusuk tubuh ini, suasana dunia yang penuh kelam dengan kebenaran yang selalu tertutupi membuatku melakukan kegiatan yang membosankan. Perkenalkan, namaku Raka Aji, aku hanya seorang mahasiswa biasa yang sudah muak dengan kebusukan dunia di mana kebenaran selalu tersisih oleh kebohongan yang sangat terpampang jelas.

“Hari ini pasti akan terjadi sesuatu yang buruk,” gumamku dalam hati.

Hujan yang turun memecah kesunyian malam menambah suramnya kehidupan ini. Aku berangkat menuju kampus menggunakan sepeda motor serta jas hujan, aku sampai di kampus dengan keluh kesah di mana aku harus membuang energi mendengarkan teori-teori yang tidak akan membuat kita memahami arti hidup ini.

Sesampainya di kelas, aku langsung mencari posisi duduk favoritku, yaitu pojok kiri paling belakang, karena di situ aku bisa tidur. “Rak, tadi malem belajar?” Suara Dina membangunkanku dari tidur.

“Belajar buat apa?” jawabku dengan nada mengantuk.

“Itu loh kan hari ini ada kuis untuk mata kuliah dari Pak Dani.

“Oh aku tidak belajar, aku semalaman menghabiskan waktu dengan membaca novel Sherlock Holmes.

“Dasar kau ini, aku heran walaupun kamu tidak suka belajar kamu tidak ada masalah dengan nilai-nilaimu,” tuturnyasambil menunjukan wajah bete-nya.

“Entahlah, aku hanya menjawab apa yang kuingat dan apa yang aku mengerti.Hanya itu saja.”

Pak Tsudarman pun masuk dan membuat pembicaraanku dengan Dina terhenti. Sebelum kuis dimulai, rupanya Rifky yang menggunakan hoodie hampir saja telat, tak biasanya dia hampir telat.Bahkan, ia orang yang selalu datang lebih awal.Karena itulahia ditunjuk sebagai penanggung jawab untuk mata kuliah yang Pak Tsudarman ajarkan.

Sesaat Rifky masuk, aku merasakan Dody tersenyum kepada Rifky, memang mereka sepertinya bersahabat karena mereka sering terlihat di kantin bersama, tetapi aku merasakan firasat yang buruk dari senyuman Dodi tersebut.

“Semuanya harap masukkan buku dan handphone kalian ke dalam tas.Hanya pulpen saja yang boleh ada di atas meja,” ujar Pak Tsudarman.

“Dodi kamu bawa jualanmu? Seperti biasa ya,Bapak beli satu donatnya.”Pak Tsudarman memang selalu membeli donat yang dijual oleh Dodi.Ia sangat menyukai donatjualan Dodi.Tanpa basa-basi, Dodi langsung memberikan donatnya kepada Pak Tsudarman. “Uangnya nanti ya sehabis kita melakukan kuis,” ucap Pak Tsudarman dengan senyum di wajahnya.

Pak Tsudarman adalah salah satu dosen favorit dikelas ini, mungkin karena ia murah senyum dan baik kepada mahasiswanya.

“Sasa, seperti biasa bapak pinjem pulpenmu ya untuk mengisi absen.”

“Iya pak ini silakan,” sahutSasasambil menyerahkan pulpennya.

Setelah kuis berjalan 10 menit, Rifky mendekati meja dosen, di situ tampak Pak Tsudarman sepertinya tertidur.“Pak bangun,” katanyasambil menggoyangkan tubuh Pak Tsudarman.

“Oh iya, ada apa, Ky?”tanya Pak Tsudarman dengan nada mengantuk.

“Saya ingin ke toile, Pak.”

“Oh iya silakan, Ky.”

Setelah Rifky keluar kelas, tampak Dodi menunjukan wajah kesalnya, tetapi aku tak terlalu memikirkan kejadian itu dan membuat kejadian tak menyenangkan terjadi.

Setelah 5 menit, akhirnya Rifky kembali ke kelas, dan tepat 3 menit setelahnya, terdengar suara teriakan yang menyakitkan dikeluarkan Pak Tsudarman sesaat setelah melanjutkan memakan donat.Ia menggenggam lehernya dengan kencang lalu terjatuh ke lantai. Semua mahasiswa pun berteriak histeris dan ada yang langsung berlari menuju keluar kelas.

Stop!Jangan ada yang bergerak.Jika kalian pergi menuju pintu itu, kalian akan dinyatakan sebagai pembunuhnya,” aku berteriak dengan kencang. Semua pandangan langsung tertuju padaku.Mungkin, mereka kaget dan bertanya-tanya keheranan karena selama ini aku tidak pernah bicara dengan nada sekeras itu.

Aku langsung menelepon ambulans dan polisi, tapi ini sungguh aneh. Apa yang terjadi pada tubuh dan pikiranku, mengapa aku sangat semangat, padahal ada orang yang meninggal tepat di hadapanku?Mungkin ini adalah efek karena aku sering membaca novel-novel misteri.

Tidak lama setelah aku menelepon, polisi dan ambulans datang. Tujuh menit setelahnya, dosen dan bagian akademik lainnya juga turutdatang.

“Apakah ada yang mendekati korban?”tanya seorang inspektur polisi.

“Hanya saya yang mendekatinya,”kataku, menjawab pertanyaan inspektur tersebut.

“Apa yang kamu lakukan, hah?!” teriaknya.

“Saya hanya menganalisis kematiannya, Inspektur Dani,”sahutku sambil melihat nama diseragamnya.

“Memangnya kamu ini sia—” Ucapan Inspektur Dani dengan segeraku potong.

“Kematiannya mungkin disebabkan racun sianida.Racun tersebut mungkin ada di antara donat ataupun pulpen, dan tersangkanya ada tiga yaitu Dodi, Sasa, dan Rifky,”terangku sambil menunjuk ketiga orang yang kusebutkan.

“Siapa kamu? Bagaimana kamu tahu bawa ia meninggal akibat racun sianida?” Inspektur tersebut tampak kebingungan.

“Ada bau almond keluar dari mulut beliau.”

“Sudahlah, berhenti bermain-main dan menjauhlah dari TKP!”seruInspektur Dani sambil mendorongku.

“Inspektur, benar apa yang dikatakan anak muda ini, terdeteksi sedikit sianida di donat dan tutup pulpen di TKP,” kata anggotakepolisianlainnyatak lama setelahitu.

Kemudian, aku segera menegaskan ucapanku sebelumnya dengan berkata, “Ada kejadian ganjil sesaat sebelum beliau terbunuh, dan ada perilaku seseorang yang membuatku yakin bahwa dialah yang membunuhnya, tetapi aku butuh bukti dan mungkin dia sudah membuangnya.”

Tunggu, tidak mungkin dia sudah membuangnya karena pasti polisi akan menyelidiki sekitar tkp, tidak pasti disembunyikan di suatu tempat dan sepertinya tidak jauh dari sini mengingat waktu pembunuhan sangatlah cepat, ya aku sudah mengetahuinya!’ ucapku dalam hati.

“Inspektur aku sudah tau siapa yang membunuhnya,” tambahkukemudian dengan penuh senyuman.

“Berhentilah bermain-main, aku bilang!”sergah sang inspektur.Wajahnya tampaksangat kesal.

“Rifky, kamulah yang membunuh Pak Tsudarman!”Tanganku menunjuk ke arahRifky.

“Hah, jangan bercanda!Bukannya racunnya terdeteksi di donat dan di tutup pulpen, bagaimana bisa aku yang meracuninya? jawab Rifky sambil tertawa.

Tiba-tiba, polisi yang tadi sempat membenarkan ucapanku mendatangi kami dan berkata,“Inspektur, rupanya ada semacam obat tidur yang ada pada donat tersebut.”

“Itulah jawabannya Rifky,” timpalku dengan cepat tanpa melepaskan pandangan dari Rifky.

“Berhentilah bercanda! Apa maksudmu menuduhku?Apakah kau sudah teracuni oleh novel-novel busukmu itu dan berlagak seperti tokoh yang sama sekali tidak nyata?!”bantah Rifky dengan tidak senang. Ia terlihat sangat kesal saat mengatakannya. Kemudian, Rifky menambahkan sambil melihat kearah Dodi,“Kamu sudah mengetahui bahwa akan ada obat tidur pada donatnya, mungkin Dodi sengaja membuat donat yang berisikan obat tidur agar Pak Tsudarman tertidur dan Dodi bisa mencontek kuisnya, dan dia memberitahukan itu padamu, bukan begitu Dodi?”

“Iya, benar, aku membuat donat yang berisikan obat tidur, tetapi tujuanku hanya agar aku bisa mencontek kuisnya karena soal-soal dari Pak Tsudarman sangat susah,” kata Dodi, membenarkanucapanRifky.

“Oleh karena itu, kamu tampak kesal karena Rifky membangunkan Pak Tsudarman, dan untuk racun yang berada di tutup pulpen,” katakusambilturutmelihatkearah Dodi, lalumenolehmenatapRifky,“kamu yang menaburkan racun tersebut disana.”

“Kamu seolah-olah melihatnya. Apa buktinya? Polisi sudah menggeledah aku, Dodi dan Sasa dan tidak ditemukannya racun tersebut, jadi berhentilah mengoceh tidak jelas!”bantahRifkydengankesal.

Aku dengan mudahnya menjawab bantahan Rifky dengan berkata, “Mengingat waktu kejadian yang hanya kurang lebih 5 menit, sepertinya sisa bubuk dari pil sianida tersebut kamu taburkan ke dalam jaket hoodie-mu.Semua itu akan terbukti jika hoodie-mu dibasahkan dan dicelupkan dengan koin logam.Jika warnanya berubah, sudah pasti racunnya berada disitu dan itu menjadi bukti tak terbantahkan, mengakulah!”

“Kalian semua salah menganggap dosen tersebut sebagai dosen yang baik.Dia adalah iblis yang hanya memedulikan uang!” Rifky tertunduk lemassetelahnya.

“Apa maksud perkataanmu itu, Ky?” tanya Sasa.

“Dia sengaja mengajar dengan soal-soal yang mudah, tetapi saat ada kuis, UTS, dan UAS dia memberikan soal yang sulit, agar kita meminta perbaikan nilai dan membayarnya untuk mengubah nilai! Aku korbannya, aku membayar dia untuk merubah nilaiku dan memang nilaiku dirubah, tetapi dia selalu memerasku dan mengancam akan melaporkannya, oleh karena itu aku bunuh dia!” jelas Rifky dengan berapi-api, yang juga secara sadar mengakui perbuatannya. Ia terlihat sangat marah.

“Kamu sungguh naif jika berpikiran bahwa manusia saat ini ada yang tulus.Tidak ada manusia yang saat ini melakukan kebaikan dengan tulus.Mereka ingin mendapatkan timbal balik, mereka hanya mementingkan keselamatan mereka; itulah naluri seorang manusia dan juga ada satu hal lagi,”katakuseraya menghampiri Rifky. “Kamu melupakan sesuatu hal yang penting. kamu seperti menilai buku hanya berdasarkan cover dan ringkasan cerita.Kamu melupakan bagian yang menarik, yaitu isinya. Bagaimana jika Pak Tsudarman awalnya mencoba menasihatimu dengan cara menyuruhmu membayar uang yang besar agar kamu tidak menyanggupinya dan akan belajar lebih giat lagi? Apakah ada kamu berpikiran seperti itu?” Rifky hanya terdiam mendengar perkataanku.

“Tetapi bagaimanapun kamu menyanggupinya dan mungkin beliau sudah terjerumus oleh jalan iblis, yaitu keserakahan.Bagian itu yang tidak selalu bisa kita prediksi, sama seperti membaca detail isi buku yang mungkin tidakakankamuduga-dugaisinya.Oleh karena itu, jangan pernah lagi kau meremehkan dan menilai seseorang hanya tampak dari luarnya saja.Layaknya sebuah buku, isinya juga sama pentingnya,”imbuhku.

Mendengar itu, Rifky menangis dengan kencang sambil terus mengucapkan kata maaf, dan akhirnya diseretpergi oleh pihak yang berwajib.

“Terima kasih,Nak, kau telah membantu polisi, tetapi ingat, jangan bertindak gegabah lagi! Dan siapa namamu?” tanya Inspektur yang sesaatkemudiandatangmenghampiriku.

“Saya adalah Raka Aji, hanya mahasiswa biasa,” jawabku sambil tersenyum puas.***

(Visited 37 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here