MALANG, PERSPEKTIF – Panitia Raja Brawijaya 2018 mempersiapkan tujuh formasi koreografi tampah mob yang menjadi salah satu rangkaian dalam pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Universitas (PKKMU) pada hari selasa (14/8). Berbeda dengan tahun lalu yang menggunakan payung sebagai koreografi, tahun ini menggunakan tampah.

Ketujuh formasi koreografi tampah mob membentuk logo Universitas Brawijaya (UB), lambang UB,  lambang difabel, lambang Aryasatya, logo pramuka, siluet Asian Games, dan lambang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-73. Pemilihan ketujuh koreografi tersebut bukan tanpa alasan. Seperti logo Asian Games, dipilih karena Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Logo pramuka dipakai untuk menunjukkan kobaran semangat memperingati hari pramuka. Koreografi difabel menunjukkan UB adalah kampus inklusif. Serta koreografi HUT RI ke- 73 yang dipilih karena dalam waktu dekat Indonesia akan merayakan 73 tahun kemerdekaan.

Persiapan tampah mob sendiri telah dilakukan sebelum hari H dengan melakukan simulasi bersama mahasiswa baru 2018. Walaupun masih ditemukan beberapa kendala, seperti penertiban semua mahasiswa yang cukup memakan waktu. Namun pada saat hari H, semuanya berjalan sesuai dengan rencana.

Terkait hal ini, ada beragam pendapat  dari Mahasiswa Baru (Maba) UB tentang tampah mob. Seperti yang diungkapkan oleh Afdan Ferdinata, Maba Jurusan Teknik Sipil yang mengatakan bahwa persiapan tampah mob masih kurang baik. “Menurut saya, persiapan untuk tampah mob terlihat kurang dipersiapkan dengan baik. Saya lihat dari lamanya persiapan pada hari H. Meskipun persiapannya terlihat kurang siap tapi dapat menghasilkan penampilan tampah mob yang sangat bagus,” ungkapnya.

Berbeda dengan Afdan, Sandy Ashraf, mahasiswa baru Jurusan statistika yang mengungkapkan bahwa panitia Raja Brawijaya 2018 sudah menyiapkan tampah mob dengan matang. “Udah bagus banget, keliatan kayaknya persiapannya udah mateng gitu kan. Ditambah lagi bentuk formasinya keren-keren,” tuturnya.

Muhammad Ariz Pratama, Ketua Pelaksana Raja Brawijaya 2018 mengatakan alasan memilih tampah agar lebih hemat biaya dan nantinya dapat berguna bagi desa-desa tematik untuk dijadikan sebagai hiasan atau barang berguna lainnya. “Kenapa tampah? Tampah itu sebenarnya kalau dikalkulasikan hitungannya lebih murah daripada payung. Kami juga mencari filosofi tersendiri kenapa kami memilih tampah dan output apa yang bisa kita lakukan setelah itu. Insya Allah dari tampah ini sendiri rencananya kami akan memberikan ke beberapa desa yang membutuhkan, seperti desa-desa tematik untuk hiasan desa-desa tersebut. Kegunaannya nanti bisa lebih banyak lagi,” jelasnya. (sci/ptr)

(Visited 48 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here