Bersiap: Pemantik bersiap menyampaikan pandangan mereka dalam diskusi “Ngopi Lah” Peran mahasiswa dalam bernegara kemarin (22/3) di Panggung Apresiasi FISIP UB –(PERSPEKTIF, Kendita).

Malang, PERSPEKTIF Kamis malam (22/3) Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) menyelenggarakan kajian Ngobrol Pintar Ala Mahasiswa (NGOPILAH) bertempat di Panggung Apresiasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Kali ini, HIMAP menyuguhkan kajian bertema “Peran Mahasiswa dalam Bernegara” dengan menghadirkan Muhammad Anas (dosen Universitas Brawijaya) dan Intan Kusuma (mahasiswa Ilmu Pemerintahan) sebagai pemantik.

“Menurut saya mahasiswa sekarang ini ya memang sudah kehilangan identitasnya. Bung Karno pernah bilang intelektual menara gading. Kita hanya bisa melihat dari atas menara tersebut dan menghakimi orang-orang di bawahnya. Ketika turun di masyarakat itu karena tuntutan dari perguruan tinggi atau lainya,” ungkap Intan Kusuma.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa tonggak hedonis dan menjadi pelopor gaya hidup konsumtif. Di mana hal itu merupakan kapitalisme yang sebenarnya.

“Jadi kapitalisme manufaktur menciptakan barang yang barang itu diberi embel-embel fetisme. Fetisme itu adalah nilai magis dari suatu barang. Jadi jika teman-teman beli hermes atau barang bermerk itu di situ ada fetisme atau nilai magis,” tambah Intan.

Muhammad Anas mengatakan bahwa mahasiswa sekarang membutuhkan pandangan yang objektif. Menurutnya pandangan objektif mahasiswa sekarang itu sudah hilang. Berbeda dengan sikap objektif para aktivis 66 yang menghantam rezim Sukarno.

“Mahasiswa itu sangat objektif di rezim yang awalnya dia mampu melahirkan Indonesia namun ketika mengelola negara melenceng mahasiswa  habisi mahasiswa hantam itu objektifnya. Hari ini kita kehilangan itu menurut saya,” ungkap Anas.

Selain hilangnya pandangan objektif Anas juga berpendapat bahwa padangan kritis mahasiswa terhadap realitas sekarang menjadi tumpul. Menurutnya faktor ekonomi menjadi penyebabnya.

“Menurut saya, agak susah mendorong mahasiwa sekarang untuk bisa kritis membaca kondisi realita. Nah itu bukan dosa mahasiswa sendiri yang lahir di pasca reformasi tapi juga dosa kapitalis yang diberikan pendidikan gitu lho itu persolaannya,” tambah Anas.

Terakhir, Anas berharap pada mahasiswa sekarang untuk tetap kritis dan berdialektika. (frd/knd/wur)

(Visited 63 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here