Sebagai hari penghapusan diskriminasi rasial dunia yang jatuh tanggal 21 Maret, PPHI dan PSP2M melakukan nonton bareng film dan diskusi Jihad Selfie di Gedung Nuswantara FISIP (21/3). (PESRSPEKTIF/Tuhfa)

Malang, PERSPEKTIF Peringatan hari penghapusan diskriminasi rasial sedunia dimaanfatkan oleh Jurusan Politik, Pemerintahan dan Hubungan Internasional (PPHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) dan Pusat Studi Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat (PSP2M) Universitas Brawijaya (UB) dengan mengadakan nonton bareng dan diskusi film Jihad Selfie garapan Noor Huda Ismail. Acara tersebut dilaksanakan di Auditorium Nuswantara FISIP, Rabu (21/3).

“Hari penghapusan diskiriminasi rasial sedunia ini sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang diskriminatif pada kulit hitam. Tidak hanya kulit hitam tetapi juga yang lainnya seperti ras,” ujar Yusli Effendi selaku moderator.

Ia menambahkan hal tersebut sama dengan jihadis Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) yang menganggap selain golongannya maka wajib untuk ditiadakan.

Noor Huda Ismail, di dalam film mengatakan ada dua pola rekrutmen ISIS yaitu lama dan baru. Saat ini peran media sosial berpengaruh dalam perekrutan ISIS. Hal tersebut juga diungkap dalam film, yaitu Teuku Akbar Maulana, remaja asal Aceh yang mendapatkan beasiswa di Turki tertarik untuk bergabung dengan ISIS. Ia tertarik ketika melihat para jihadis ISIS mengunggah fotonya di media sosial dengan membawa senjata AK47 yang dianggapnya keren.

“Ini adalah bentuk kampanye dengan film karena kami sadar orang Indonesia malas baca buku dan kajian. Radikalisme tidak hanya dari masjid tetapi juga handphone sebagai sarang radikalisme,” ungkap Rizki Maulana selaku produser film sekaligus pemateri yang berasal dari Yayasan Prasasti Perdamaian.

Rizki juga menambahkan bahwa radikalisme merupakan hal yang berbahaya dan segala hal di sosial media terlihat bagus terlebih untuk generasi milenial. Tidak semata-mata radikalisme berasal dari orang-orang yang bodoh atau miskin justru kadang sebaliknya.

Salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) menyatakan hal yang sama, “Saya setuju saat ini anak muda ketika masuk kamar bukan untuk tidur. Tetapi untuk pergi kemana-mana melalui media sosialnya,” jelas Tubagus Prasetyo

Menanggapi perihal di atas, Wahyuni Widyasari, salah satu pemateri perwakilan dari Center for Marjinalized Communities Studies mengungkapkan bahwa keluarga dan pendidikan menjadi poin penting dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan.

Pesan juga datang dari Rizki  “Sebagai anak muda ketika di media sosial harus menggunakan critical thingking karena akan meningkatkan digital literasi. Sekarang ini banyak anak muda yang tahu menggunakan aplikasi tetapi tidak tahu mengoptimalkannya,” tambah alumni Universitas Muhammadiyyah Yogyakarta tersebut. (ttm/wur)

(Visited 87 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here