Judul: Orang Asing (Judul Asli: L’Etranger)

Penulis              : Albert Camus

Penerjemah      : Apsanti Djokosujatno

Penerbit            : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

ISBN                 : 978-979-461-862-2

Tebal                : 124 halaman

Ukuran             : 13,5 x 18,5 cm

Cetakan           : II, November 2013

Oleh                 : Agustina Rosianawati

 

Buku yang berjudul “Orang Asing” karya Albert Camus ini terdiri dari dua bagian, masing-masing bagian terdiri dari 6 dan 5 bab. Terbit pertama kali dalam bahasa Prancis dengan judul L’Etranger pada tahun 1942, kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The Outsider dan The Stranger. Meursault merupakan tokoh utama dalam cerita ini. Meursault mendapat berita bahwa ibunya meninggal dunia. Meursault merencanakan pulang untuk melihat ibunya dan meminta izin kepada majikannya untuk libur dua hari, namun majikannya terlihat tidak menunjukkan rasa senang dan berbela sungkawa “hal ini diketahui kemudian oleh Meursault bahwa majikannya tidak senang Meursault libur hari Kamis dan Jumat, karena dengan demikian Meursault libur empat hari”. Namun demikian Meursault tidak menunjukkan kesedihan hingga pemakaman ibunya. Hal ini dinilai oleh orang lain sebagai suatu tindakan yang aneh.

Alur selanjutnya, Meursault berkencan dengan seorang perempuan bernama Marie Cardona. Kencan tersebut hanya berselang sehari setelah pemakaman ibunya. Pada saat kencan, Meursault mengenakan dasi hitam yang dipertanyakan oleh Marie apakah Meursault dalam keadaan berduka, namun Meursault mengatakan bahwa ibunya baru meninggal kemarin dengan ekspresi datar. Setelah itu Meursault juga bertemu dengan tetangganya Raymond seorang pria yang tidak diketahui apa pekerjaannya namun selalu berpakaian rapi. Raymond menceritakan bahwa ia punya pacar yang suka berbohong. Raymond meminta Meursault menuliskan surat kepada pacarnya itu agar ia mau datang, dan mereka bisa bercinta untuk terakhir kali dan supaya Raymond bisa memukulnya untuk terakhir kali. Saat pacar Raymond itu datang, Raymond memaki dan memukulinya. Lalu datanglah polisi, hingga akhirnya Raymond ditahan. Raymond meminta Meursault untuk memberi kesaksian, hingga akhirnya Raymond pun dibebaskan. Setelah bebas, Raymond mengajak Meursault dan Marie berjalan-jalan ke pantai dan mengunjungi rumah pantai milik teman Raymond. Di pantai itulah mereka bertemu saudara mantan pacar Raymond beserta teman-temannya dan mereka terlibat perkelahian. Raymond terluka dan mereka kembali ke rumah pantai. Raymond lantas ingin membalasnya, ia pun mengambil sebuah pistol. Tapi Meursault mengambil pistol itu karena takut terjadi hal buruk. Setelah itu Meursault kembali ke pantai sendirian, dan ia bertemu dengan salah satu orang yang menyerang mereka tadi. Meursault mengalami disorientasi karena terkena panas dan silau matahari. Dalam kondisi disorientasi itu, ia melihat orang tadi mencabut pisau. Ia pun panik dan menembaknya dengan pistol yang ia sita dari Raymond. Karena silau, ia kembali menambah empat tembakan pada orang tersebut.

Kejadian tersebut membuat Meursault akhirnya dibawa ke pengadilan. Selama persidangan, Meursault lebih banyak diam. Dalam persidangan Mersault dijatuhi hukuman mati, namun vonis hukuman mati justru didasarkan pada tindakan-tindakannya yang tidak lazim saat kematian dan masa berkabung ibunya. Hal tersebut membuat penuntut memanfaatkan itu untuk menggambarkan kepribadian Meursault yang buruk. Meursault dianggap bukan orang baik karena mengirim ibunya ke panti wreda, tidak sedih saat pemakaman ibunya, tidak ingin melihat wajah ibunya yang meninggal , merokok, tertidur saat menunggui jenazah ibunya, serta berkencan sehari setelah kematian ibunya. Tidak hanya itu Meursault juga dianggap pembunuh yang tenang, kejam, jitu dan penuh perencanaan karena setelah satu kali tembakan, ia kembali menambah empat tembakan.

Buku ini bercerita tentang gagasan seorang Albert Camus mengenai absurd. Tentang absurditas kehidupan dan dunia. Albert Camus menuliskan tokoh utama yaitu Meursault. Disini, Meursault digambarkan sebagai sosok yang mempunyai sifat pasrah yang ekstrem karena menerima segala sesuatunya sebagai kewajaran dan biasa saja.  Ia tidak berusaha untuk memaknai, apalagi memahami dunianya. Itu terlihat ketika Meursault menolak untuk melihat jasad ibunya untuk terakhir kali, misalnya.  Ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas, saat ditanya oleh penjaga pintu yang menawarkan untuk membuka peti matinya “Mengapa?” Meursault  hanya menjawab “Saya tidak tahu.”

Bahwa inti dari absurditas pada novel ini adalah mengenai dunia dan eksistensi manusia yang tidak memiliki tujuan dan makna yang rasional, dan itulah yang tergambar dari sikap Meursault.

Saat membaca Orang Asing sebagai novel terjemahan, tidak terlalu mudah untuk memahami narasi dan dialognya. Butuh cukup tenaga untuk mencerna isi novel ini. Alur cerita yang hampir datar, ditambah karakter Meursault yang datar dan minim ekspresi membutuhkan kesabaran lebih untuk menuntaskan novel tipis ini. Namun disisi lain bahasa yang digunakan cukup indah. Selain itu, Orang Asing merupakan perwujudan  pemikiran Albert Camus tentang filsafat absurd.

(Visited 94 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here