sumber gambar: google

Judul Buku : Sirkus Pohon

Penulis : Andrea Hirata

Penebit : Bentang Pustaka

Cetakan : Cetakan Pertama Agustus 2017

Tebal : 410 halaman

ISBN : 978-602-291-409-9

Oleh : Izza kharimatunnisa

 

“Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta”- Andrea Hirata, itulah kutipan kalimat dari halaman pertama novel Sirkus Pohon milik Andrea Hirata. Sirkus Pohon adalah seri pertama dari trilogi Sirkus Pohon, menceritakan kisah pohon delima dan sirkus keliling Blasia yang mengubah hidup orang-orang di sekitarnya. Ya benar, secara tidak langsung Andrea mengisahkan bahwa pohon delima dan sirkus keliling Blasia adalah tokoh utama dari novel Sirkus Pohon. Di dalamnya terdapat 3 babak yang memuat bab-bab sesuai inti tema babak. Seperti novel-novel pendahulunya Sirkus Pohon kental sekali dengan budaya melayu. Bahkan Andrea menyisipkan beberapa pantun Melayu.

Terkisah tentang Sobridin bin Sobirinudin alias Hob, lelaki pengangguran tamat-an SMP kelas 2 ini selalu kesulitan mencari pekerjaan. Ditambah dengan rumor bahwa Hob adalah anggota geng mafia Granat karena kedekatannya dengan sahabatnya Taripol yang terkenal suka mencuri di kampung. Dalam kisah yang lain menceritakan Tegar dan Tara, 2 remaja yang mengantarkan ibu mereka bercerai di pengadilan agama. Saat itu Tara kagum dengan Tegar yang melindunginya dari anak-anak yang berebut untuk bermain perosotan, sehingga Tara bertekad ingin mencari penolongnya tersebut. Begitu juga Tegar ingin mencari bocah perempuan yang di temuinya saat di pengadilan agama dulu meskipun tak mengetahui nama dan alamat bocah itu.

Kisah mereka di pertemukan oleh sirkus keliling milik orang tua Tara. Hob yang saat itu tengah kasmaran dengan Adinda gadis penjaga toko, ingin meminangnya. Dengan syarat Hob harus memiliki pekerjaan tetap. Sirkus keliling menerima Hob untuk bekerja menjadi badut sirkus pertunjukkan, sehingga membangkitkan semangat Hob dengan mendapat impian baru. Namun menjelang pernikahan Hob dengan Adinda tiba-tiba Adinda mengalami depresi dan lupa ingatan. Menurut dukun Daud Adinda seperti itu karena pohon delima di halaman rumah Hob, pohon itu adalah pohon keramat. Konflik bertambah saat peralatan sirkus Blasia di sita oleh Gastori seorang rentenir kampung karena hutang ayah Tara yang menumpuk. Gastori yang saat itu mencalonkan diri menjadi kepala desa mendengar ada pohon keramat yang bisa mengabulkan permohonan dan berusaha melakukan segala cara untuk mengambil pohon tersebut.

Membaca buku ini seakan mengingatkan kita bahwa hidup ini tak hanya kita sendiri yang menjalaninya. Banyak hal remeh yang bahkan kita anggap tidak penting di kemudian hari memberikan dampak yang besar dalam hidup. Peristiwa pencalonan Gastori menjadi kepala desa juga sedikit banyak mencerminkan kondisi politik saat ini, yang hanya mengandalkan pencitraan dan melakukan segala cara untuk menang. Saat membaca buku ini di sarankan tidak terburu-buru dan menikmati alur cerita karena dalam cerita banyak tokoh-tokoh baru yang muncul dan juga sudut pandang yang acak. Meskipun begitu buku ini sangat cocok untuk kalian yang ingin membaca buku dengan budaya melayu yang kental. Selamat membaca.

(Visited 105 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here