Ilustrasi (PERSPEKTIF,Elisabeth Katharina)

Malang, PERSPEKTIF Defisitnya dana kemahasiswaan Universitas Brawijaya (UB) sebesar 5,5 miliar, berimbas terhadap terhambatnya kegiatan yang dilaksanakan oleh Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) UB.

Menanggapi permasalahan tersebut, Achmad Khoruddin, Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM) UB, mengungkapkan bahwa mereka sudah melakukan diskusi dengan pihak rektorat, baik Mohammad Bisri, Rektor UB, maupun Arief Prajitno, Wakil Rektor (WR) III.

“Informasi defisit 5,5 miliar itu dari kemahasiswaan. Kemudian saya juga sudah beberapa kali diskusi dengan WR III berkaitan dengan masalah tersebut. Informasi menurutnya, itu (defisit) adalah imbas dari acara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Mahasiswa Nasional,” terangnya.

Udin, sapaan akrabnya, menambahkan menurut informasi yang ia dapatkan, dana pagu yang sudah ada tersebut habis karena dampak adanya acara MTQ yang diselenggarakan bersama oleh UB dan Universitas Negeri Malang (UM).

“Informasi detail dari MTQ defisitnya berapa saya belum tahu. Jadi, informasinya masih ada masalah pada laporan keuangan MTQ. Artinya, dari UM dengan UB ini share nya (pembagian tanggung jawab pendanaan acara MTQ) belum tuntas,” ungkap mahasiswa Fakultas Pertanian tersebut.

Ketua Pelaksana MTQ, Achmad Muwafik Saleh, menanggapi mengenai hal tersebut, ia menjelaskan bahwa seluruh kegiatan tuan rumah nasional semuanya diambil dari dana kemahasiswaan. Menurutnya, tak harus dibebankan pembiayaanya kepada kemahasiswaan saja.

“Kemudian, pada saat kegiatan MTQ ada kegiatan yang sifatnya bersama, namun oleh pihak keuangan UB dimasukan dalam pendanaan UB. Jadi, ada kesalahan dalam penempatan anggaran oleh bagian Keuangan yang seharusnya dijadikan kegiatan bersama,” papar Muwafik, pada Kamis (9/11).

Muwafik mengungkapkan pada acara MTQ total kegiatan habis hampir 13 miliar. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Pembelajaran Kemahasiswaan memberikan dana bantuan 3,5 miliar dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur memberikan 3 miliar.

Menurut Muwafik, hal tersebut juga terkait dari tanggung jawab biro Keuangan Universitas untuk menagihkan ke UM, karena Biro Keuangan UB masuk dalam Bagian Keuangan di acara MTQ. “Mereka (Biro Keuangan) seringkali mencla-mencle, dikasih tanggung jawab mereka selalu lempar tanggung jawab,” tuturnya.

Saat awak PERSPEKTIF mencoba mengkonfirmasi kepada pihak Biro Keuangan UB, mereka bungkam tidak mau diwawancarai untuk dimintai keterangan.

Muwafik juga membenarkan bahwa pihak UM belum memberikan bagiannya (dana yang ditanggung bersama di acara MTQ).

“Selebihnya (dana total acara MTQ dikurangi dana dari Kemenristek Dikti dan Pemprov Jawa Timur) seharusnya dibagi dua antara UB dan UM meskipun tidak bisa langsung dibagi dua karena bebanya yang berbeda. UB lebih banyak, dan seharusnya UM juga memberi, tapi sampai sekarang kok belum memberi,” ungkap Muwafik.

Perwakilan dari pihak UM, Yusuf Hanafi, selaku Wakil Ketua acara MTQ menanggapi tuduhan bahwa UM belum membayarkan kewajibanya adalah sebagai tuduhan tanpa dasar karena sebenarnya tanggungan pendanaan tersebut sudah mencukupi.

Yusuf memaparkan bahwa ada tiga sumber dana, yaitu Kemenristekdikti, masing-masing Perguruan Tinggi (PT) yaitu  UB dan UM serta dana sponsorship. Terdapat dua kegiatan, yaitu rayon (ditanggung bersama) dan kegiatan lokal yang ditanggung oleh masing-masing PT.

“Di UB ada 7 bidang musobaqah dan 6 kegiatan musobaqah di UM. Sehingga, dana 3,5 miliar dari Kemenristekdikti kemudian digunakan untuk kebutuhan rayon, namun dana 3,5 miliar tidak cukup sehingga ditambah menggunakan dana sponsor dari Pemprov Jawa Timur 3 miliar,” papar Yusuf saat ditemui di UM, pada Rabu (22/11).

Menurut Yusuf, kegiatan yang seharusnya ditanggung bersama oleh UB dan UM sudah tertutupi oleh dana yang diberikan oleh Kemenristekdikti dan sponsor (Pemprov Jawa Timur dan lainnya). Bahkan UM mendapatkan bantuan dari kelebihan dana sponsor yang berasal dari Pemprov Jawa Timur sebesar 500 juta, pun demikian dengan UB.

Yusuf menambahkan pengajuan dana MTQ sebesar 13 miliar. Tapi riil nya tidak mencapai segitu, di bawah itu. UM menyatakan habis 4 miliar untuk yang lokal, UB menyatakan habis 6,2 miliar. Jadi, kalau ditotal, 10,2 miliar ditambah 3,5 miliar itu sudah 13 sekian, belum ditambah sponsor.

“Makanya, UM belum membayarkan kewajiban yang mana? kalau kami belum membayar, dana sponsor itu tidak usah diberikan ke UM. Wong kami loh malah dibantu dana sponsor,” pungkasnya. (ank/wnd/pch/lta)

(Visited 209 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here