Ilustrasi Cerpen Maryam (PERSPEKTIF,Faiz)

Oleh: Lalu Imaddudin*

“Bagaimana kalau besok kiamat?”

Bunyi suara yang kutangkap datang dari belakang punggungku. Spontan, aku balik badan.

“Iya mba, kenapa mbak?” Balasku. Cepat. Tergesa. Bisku akan berangkat tidak lama lagi.

“Bagaimana kalau besok kiamat mas? Apa yang akan mas kerjakan?” Susulnya, tidak kalah tergesanya. Sepertinya kita penumpang bis yang sama. Pikirku.

“Kalau besok kiamat?” Tukasku dalam hati. Aku memperhatikan mukanya yang bundar, ia terlihat terlihat seperti bakpao. Putih. Bulat.

“Mungkin, saya belum bangun di bis, mbak,” jawabku. Setengah bercanda. Setengahnya lagi entah apa. Tapi raut mukaku yang datar tak bisa melarikan diri dari upaya melucuku. Seharusnya sih lucu. Pikirku. Kalau pun gak lucu, setidaknya mungkin dapat terdengar cukup santun. Pikirku lagi.

“Bukan. Maksud saya, ada ngga yang mas sesalkan dalam hidup, kalau-kalau besok ini kiamat?” Ujarnya meluruskan maksud pertanyaannya. Tak ada jeda. Cepat dan pasti.

“Orang-orang lain yang mbak tanya dengan pertanyaan yang sama kebanyakan jawabnya apa, mbak, kalau boleh tahu?”

“Mas orang pertama yang ngeladenin pertanyaan saya.” Jawabnya cepat.

“Mungkin ibadah saya, mbak.” Jawabku mengangguk-angguk. Spontan aku terheran sendiri pada jawabanku. Kalimat tersebut muncul otomatis, tanpa perintah, tak ada kupikirkan sebelumnya akan menjawab demikian.

Ia tersenyum. Aku lebih terheran lagi. Perempuan ini manis sekali. Pikirku.

“Kenapa ibadah mas?” Tanyanya lagi.

Aku kehabisan kalimat dalam kebingungan sekaligus mungkin rasa jengkel; perempuan ini sedang penelitian apa? Pikirku. Seperti meladeni kuesioner berjalan. Lengkap dengan sepasang bola mata yang hitam; alis tipis yang menatap tajam; bibir mungil berwarna merah pucat; muka putih seperti porselein; juga bulat macem bakpao; serta hidung kecilnya itu yang membuatku ingin menjepitkan jepitan jemuran. Kalau lebih mancung sedikit saja, pikirku.

Beberapa penumpang lain kulihat bergegas masuk ke bis. Angin garam di pelabuhan masuk ke dalam hidung.

“Hatssyyhii!!” Aku bersin. Sialan, batinku. Hidungku jadi gatal sekali.

“Terima kasih ya, mas. Maaf mengganggu.” Pungkasnya memecah keheningan di tengah-tengah pertanyaannya yang belum juga kujawab. Untung saja ia tersenyum manis sekali. Kalau saja yang bertanya seperti itu padaku tidak ada seperempat kecantikan perempuan ini, aku pasti langsung pura-pura mengangkat panggilan telepon dari seorang teman facebook asal Buenos Aires.

“Untung cakep.” Pikirku lagi.

Ia berjalan pelan ke dalam bis. Langkahnya pasti. Cepat, namun tak ada tergesanya. Aku mengikutinya tiga langkah dari belakang; memperhatikan pijakannya yang terpeleset sewaktu menopang tubuhnya di tangga pintu. Hampir saja, pikirku. Refleks tangannya yang spontan menyambar gagang pintu; mengingatkanku pada rokok di bibirku yang hampir saja kubawa masuk ke dalam bis. Spontan aku membuang rokokku. Aku menoleh sebentar ke ujung dermaga; feri penyeberangan datang membawa sekelompok camar yang terbang rendah di kepala kabin.

Bisku klakson: tet..tet..tet.. Mengisyaratkan kepada penumpang lainnya untuk segera kembali ke tempat duduknya.

Di dalam bis, aku dan penumpang-penumpang lainnya kurang lebih melakukan hal yang sama; memeriksa barang-barang bawaan, lalu duduk dan menghela nafas.

Kalau besok kiamat, pikirku. Aku pikir tidak tahu apa-apa sedikit menakutkan. kalau tahu tanggal pasti kiamat, mungkin aku bisa berdoa sungguh-sungguh supaya tidak masuk neraka. Tapi seingatku ada peribahasa yang bilang kalau curiosity killed the cat. Rasa ingin tahu itu yang dapat membunuh seekor kucing. Tapi aku manusia bukan kucing. Seharusnya curiosity tidak dapat membuatku mati. Lagipula, kucing itu juga tidak mungkin langsung mati begitu saja setelah mengetahui suatu hal yang membuatnya penasaran. Bukannya kucing punya tujuh nyawa? Atau sembilan? Kalau memang benar; mungkin kucing adalah satu-satunya mamalia yang paling mengetahui segala hal di dunia ini. Bayangkan saja kalau seandainya selama 40-50 juta tahun kucing sudah hidup di bumi ini; berapa banyak rahasia alam semesta yang diketahuinya dalam kurun waktu jutaan generasi; ratusan familia; dan puluhan genus kucing setap kali mereka kehabisan nyawa? Mungkin justru kucinglah yang lebih dahulu mengetahui angka terakhir dari π pi (/paɪ/) = 3.14159……… yang sepertinya tidak akan pernah berakhir itu.

Sepertinya rasa ingin tahu kita toh tidak membuat manusia mati, pikirku. Yang mati karena penasaran harusnya cuma kucing doang. Pikirku lagi.

Mungkin peribahasa kuno yang bilang the more we know the less we understand itu pokok persoalannya. Karena rasa ingin tahu yang tidak ada habisnya itu yang mungkin menyebabkan pengarang Die fröhliche Wissenschaft (Pencarian Ilmu Pengetahuan Yang Menggembirakan) itu pernah berkata:

“..Und wenn du lange in einen Abgrund blickst, blickt der Abgrund auch in dich hinein.

..And if you gaze long into an abyss, the abyss also gazes into you.

Pantas saja kucing disembah-sembah di Mesirnya Firaun. Kucing tidak akan ketakutan kalau the abyss ada menatapnya terus-terusan karena menatap the abyss tak henti-henti. Lah, nyawanya sembilan. Atau tujuh?

Sementara usia manusia hanya habis sekali pakai.

Apa gunanya menghabiskan usia sekali pakaimu untuk bersitegang dengan the abyss? Di banyak literasi; the abyss itu seperti tempat segala misteri alam semesta bersembunyi. Dan sebabnya literasi itu sama saja dengan game rpg online, sudah pasti ada boss-nya. Untuk mendapatkan reward-nya, player harus struggle melawannya untuk menang. Itupun kalau reward-nya memang rewarding. Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau yang bersembunyi di dalam the abyss itu hanyalah omong kosong yang bertumpuk-tumpuk. Atau sesuatu yang sangat konyol seperti kemungkinan angka terakhir π (pi) itu hanyalah salah satu dari angka 0 sampai angka 9? Seperti item yang kamu dapatkan susah-susah dalam boss raid itu ternyata bisa kamu beli kalau uangmu cukup. Dan efek item-nya ternyata tidak lebih bagus dari item yang kamu dapatkan dari item shop di dalam game-nya. Kalau memang demikian, pikirku lagi, apa gunanya peradaban manusia selama 10.000 tahun ini? Apa gunanya semua ini? Apa? Untuk apa? Mengapa manusia berusaha tetap hidup di tengah-tengah omong kosong ini? Oh kalau saja perempuan itu benar. Pikirku; ada baiknya kalau besok kiamat saja. Biar musnah segala kucing-kucingan dengan pengetahuan ini. Pikirku berandai-andai.

Ada cukup banyak juga istilah yang melibatkan “kucing” ya? Pikirku. Sepertinya kucing memang kunci untuk memahami misteri alam semesta ini. Pikirku lagi. Lalu aku menghitung berapa banyak istilah yang melibatkan nama kucing dalam pembendaharaan bahasa manusia; kucing-kucingan, tai kucing, kucing garong, kucing-ta kau apa adanya.

Sementara aku menghabiskan waktu memikirkan persoalan kiamat dan segala genus dan segala famili kucing dan memikirkan alangkah bagusnya kalau sebelum kiamat ada peringatan dahulu; seperti misalnya, ada peringatan evakuasi bencana kalau ada gempa atau tsunami—bis antar kota antar provinsi ini sudah parkir di dalam geladak.

Para penumpang diharapkan untuk turun dan tidak berada di dalam bis.

Di atas kapal, aku memilih duduk di pinggir kabin, dekat kamar ABK. Bersandar pada teralis, dan makan nasi pecel.

“Apa mas tahu kalau manusia itu bisa saja lahir dari kuah pecel?” Bunyi sebuah suara tiba-tiba.

“Hah?” Ujarku.

Perempuan itu kutemukan berdiri di sebelahku, menatap horizon dan kerumunan awan siang hari yang dihiasi camar-camar hitam, camar-camar itu terbang cukup rendah, sembari menghindari percikan ombak yang ketika kuperhatikan cukup gelisah dan tidak tenang. Kubayangkan feri ini akan cukup goyang karena ombak beberapa saat lagi. Perempuan itu memegang erat botol air mineral dan tas punggung yang tampak kebesaran ketimbang badannya. Sekarang sudah pukul 13.34 siang, 10 menit lagi feri ini seharusnya sudah angkat jangkar.

Tiga jam mengendarai lautan dapat membuatmu pusing-pusing dan mual. Lebih lagi kalau jumpa feri yang jalannya selambat siput. Segalanya jadi tampak melambat. Seolah-olah satu menit adalah sepuluh menit. Sepuluh menit adalah seratus menit. Dan seratus menit adalah seratus jam, dst. dst. dst.

Sehingga percakapan apapun yang muncul untuk melupakan rasa mual jadi sia-sia dan percuma. Di atas kapal,  aku belajar menjadi orang serba bisa. Serba bisa tidur dimana saja asal tidak terjaga dan tidak diajak berbicara.

Sementara itu, perempuan ini masih saja keras kepala; ia masih saja bertanya-tanya. Aku benar-benar ingin mendorongnya jatuh ke laut seperti Yunus; agar dimakan paus dan mengurangi satu lagi beban penumpang untuk menghindari kelebihan muatan yang otomatis akan membuat orang-orang sepertiku satu langkah lebih jauh dari kematian tiba-tiba. Itulah gunanya menggunakan helm, pikirku. Mencegah kecelakaan itu jauh lebih baik ketimbang mengobatinya di rumah sakit. Pikirku lagi. Sementara perempuan ini masih saja roaming dengan segala macem pertanyaannya yang kupikir terlalu mengada-ada untuk kuanggap serius.

Tidak lama, aku sudah menemukan diriku tergeletak berbantalkan sebelah lengan.

“Mas, bagaimana kalau sewaktu mas tidur, tuhan menunda kiamat?” Ujarnya. Kali ini pertanyaannya terdengar jelas sekali. Mungkin karena seolah-olah pertanyaannya mengisyaratkan haqul-yaqin kalau besok memang benar-benar kiamat. Tiba-tiba aku teringat Divina Commedia-nya Dante yang terkenal itu. Kalau besok memang kiamat, aku jadi  khawatir kalau masuk neraka.

Mataku yang terpejam mencoba mengintip ke arah perempuan itu; aku sedikit berharap kalau monolog yang sedang dilakukannya untuk mungkin mengusir kebosanannya itu memang adalah monolog. Sehingga sebagai penumpang yang hanya ingin segera menyudahi perjalanan laut ini, aku dapat mempertahankan prinsip konservasi energiku untuk tidak membuang-buang energi pada perihal-perihal yang tidak kuanggap perlu.

Sialnya, perempuan ini menatap tajam ke arahku. Tatapnya tajam sekali. Seolah-olah ia bukan meminta untuk diperhatikan; tapi sebuah perintah untuk diperhatikan. Dan aku seolah-olah nelayan karam di Sarpedon; di hadapanku Medusa dan rambut ularnya bersiap menyengat kalau tidak segera kujawab. Perseus sialan itu tidak datang-datang. Pikirku.

Dengan berat hati dan sedikit ketakutan, aku menjawab pertanyaannya.

“Ya mungkin saya masih tidur, mbak. Bagaimana saya bisa tahu kalau tuhan menunda kiamat? Kalau jadi berita ya saya tahu. Kalau jadi tren dimana-mana ya saya juga pasti tahu. Kalau semua orang tahu ya seharusnya saya juga tahu, mbak. Tapi ya, balik lagi mbak, bagaimana cara mengetahuinya kalau tuhan menunda kiamat? Lagi pula, bukannya kata mbak, manusia bisa saja lahir dari bumbu pecel. Kalau memang benar kita manusia adalah bumbu pecel yang bisa berpikir, punya akal dan membangun peradaban…untuk sekedar bumbu pecel ada urusan apa sama tuhan? Untuk sekedar bumbu pecel yang dapat basi dalam sehari, yang usianya tidak lebih singkat dari jarak matahari ke kapal ini, untuk apa mengurusi hal-hal yang tak terpikirkan? Umur manusia sudah sangat singkat mbak. Ada baiknya manusia melakukan apa saja yang disukainya asal berguna buat masyarakatnya.”

Jawabku panjang lebar. Berusaha meluruskan pertanyaan-pertanyaannya yang sedari tadi melewatkan satu persoalan yang tidak pernah terjawab dalam sejarah umat manusia. Bagaimana cara menghubungi tuhan? Bagaimana cara berkomunikasi dengannya? Bagaimana caranya untuk dapat melihat tuhan sebagai peristiwa empiris sementara kita semua tahu; bahwa keberadaan tuhan adalah persoalan keyakinan. Persoalan iman yang tidak membutuhkan penjelasan saintifik atasnya. Sehingga urusan tuhan dan segalam macam spiritualitas lainnya seharusnya tidak usah ditanya-tanyakan, pikirku. Biar saja ia jadi urusan masing-masing orang. Kecuali mungkin sebagai sebuah peringatan. Bahwa hidup tiadalah kekal. Bahwa segala hal yang ada di dunia ini tidak terjadi sebagai sebuah kebetulan. Bahwa ada sebuah supreme being yang mengatur dan mengawasi segalanya. Untuk menjaga kecongkakan dan rasa sombong untuk tidak tumbuh subur dalam benak satu-satunya mamalia yang bisa berpikir: manusia.

Ketika dilihat seperti itu, pikirku, tuhan amatlah sangat perlu bagi keberlangsungan peradaban umat manusia. Itu sebab sebegitu banyak ilmuwan-ilmuwan pesohor yang terang-terangan menolak konsep tuhan dan kehidupan berikutnya. Mereka bukan menganggapnya tidak penting untuk dibahas, tapi menghindari pembahasannya. Sebab ia seperti  kotak pandora yang ketika kotak itu dibuka; hanya ada dua kemungkinan: 1) kutukan, 2) berkah. Karena tidak bisa dihitung kepastiannya secara saintifik, itu mungkin sebab banyak pemikir yang mendakwa dirinya untuk tidak hanyut dalam pembahasan ketuhanan. Karena mungkin ketuhanan adalah konsep yang terlalu agung untuk sekedar menjadi carut-marut the pursuit of knowledge. Bagusnya, orang-orang beken itu jadi lebih sibuk untuk mendedah apa yang terjadi dalam dark matter; apa yang terjadi sebelum big bang?; mengapa waktu berjalan linear menuju masa depan bukan linear menuju masa lalu?; apa yang ada di dasar subkonsius manusia?; bagaimana menyederhanakan kompleksitas kerja otak manusia?; asal-usul waktu; higg boson; elektron dan anti-elektron; bumi mengelilingi matahari atau matahari mengelilingi bumi; bumi datar; bumi jajar genjang; bumi trapesium; bumi seperempat dari segitiga phytagoras; dll. dll. dll.

Aku berusaha menjelaskan kepada perempuan itu dengan menggunakan jurus-jurus kesopanan yang kupelajari dalam mata kuliah retorika, untuk menyarankannya agar meyakini bahwa tidak ada gunanya pertanyaan dan perandai-andaian seperti itu. Yang harus kita yakini pasti hanyalah pada akhirnya semua yang bernyawa pasti akan mati.

Sehingga kemudian seperti tidak memperdulikan akan jawabanku; ia bertanya lagi.

“Tadi pecelnya beli dimana mas?”

Arrrggghhh! Kalau saja kepalaku bisa kucopot; aku akan menjadikannya bola bowling dan kulempar hingga menghantamnya di kepala.

“Mas, tadi pecelnya beli dimana?” Tanyanya kembali. Matanya berpaling ke bungkusan pecel yang sudah habis yang tergeletak di sebelahku. Lalu angin besar menyambar. Bungkusan itu terbang terbawa angin. Aku dan perempuan itu memperhatikan bungkusan pecel itu di langit siang itu. Ia mengambang di udara. Menyelinap di antara camar-camar. Beberapa deretan awan dilaluinya, sampai perlahan kapal kami semakin menjauh darinya. Nantinya, ia pasti jatuh juga.

Namun entah, jatuh dimana.

“Mas, itu tadi pecelnya itu belinya dimana?” Lagi. Ia bertanya lagi.

“Tadi pas baru masuk kapal mbak.” Jawabku sembari aku mengambil ranselku dan mencari-cari air mineral di dalamnya.

“Emangnya sehat?”

“Nggak tahu mbak, sehat nggak sehat toh ya besok juga kiamat.”

“Kalau ditunda?”

“Ya, yang penting kan ujung-ujungnya juga kiamat.”

Kali ini ia tertawa. Entah karena apa. Sementara aku sudah menemukan diriku lelap dalam goncangan kapal.

Matahari terasa jatuh di kelopak mataku. Teriknya memaksaku membuka mata. Aku mendapatkan perempuan itu sudah duduk dan terpejam. Wajahnya tampak lelah. rambutnya yang diikat, terbang-terbang oleh angin. Peluh di wajahnya jatuh sampai ke bibirnya. Air mineralnya terjatuh dari genggamannya menggelinding sampai ke batas teralis. Sebentar lagi jatuh ke laut, pikirku.

Kapal menabrak ombak. Goncangannya membuatku semakin mual. Air mineral perempuan itu menggelinding kembali dan menyentuh kakinya. Sontak ia sedikit kaget. Seketika itu juga, ia terbangun.

Lalu aku, entah karena setan apa, berkata padanya:

“Mbak, mungkin karena manusia selalu punya cara untuk membaik-baikkan apapun yang mengancamnya. Sekalipun mungkin ya..kalaupun kita memang lahir dari bumbu pecel atau dari tempe bacem atau sayur asem atau segala macam jenis panganan lainnya; kita ada hak untuk tidak peduli dan tidak ingin tahu. Dan buat saya, yang demikian itu cara saya untuk membaik-baikkan apapun yang membuat saya merasa takut”

Kali ini, mata kami bertemu. Aku memperhatikan kedua bola matanya. Di dalam bola mata itu, ada sesuatu yang mengganggunya. Entah apa. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya sebelum segala bombardir pertanyaan-pertanyaan ini. Ia bisa saja baru mengalami sebuah peristiwa yang sangat traumatis sehingga membuatnya meyakini bahwa tidak ada yang dinamakan keadilan di dunia ini. Atau bisa saja karena sebuah artikel konyol di internet tentang bagaimana cara menghabiskan perjalanan lautmu tanpa pusing-pusing dan mual. Atau mungkin saja segalanya muncul begitu saja; impulsif dan tanpa sebab. Yang manapun, pikirku..perempuan ini manis sekali.

“Kalaupun besok kiamat, saya mungkin juga akan berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja.”

Lalu ia mengambil air mineralnya. meminumnya dua tegukan. Lalu menawarkanya kepadaku.

“Apa yang akan mas lakukan kalau tahu bahwa air mineral ini punya kandungan ion yang sudah tercemar oleh bermacam bentuk limbah plastik?”

Ia bertanya kembali, melirikku dan air mineralnya secara bergantian. Ia mengisyaratkan aku harus menerima tawarannya. Dipikirnya, aku kehausan. Dan aku meraih air mineralnya.

“Mungkin ya sama saja kalau saya tahu bumi itu bundar atau trapesium, dan Tesla itu mobil mahal, mbak. Saya bisa apa?”

Dan air mineral itu tandas satu tegukan.

“Saya Abdulloh.” Kataku, spontan mengulurkan tanganku.

“Saya tidak bertanya soal kiamat buat kenalan lo mas?” Balasnya. Ia mengernyit tajam dan membiarkan tanganku yang hendak menjabatnya menganggur. Ombak yang menabrak kapal sampai jatuh pada tapak tangan. Tanganku jadi basah dan lengket-lengket.

Lalu telapak tangan jatuh pada teralis. Ombak masih menabrak kapal dan jatuh ke telapak tangan. Tanganku basah kuyup oleh garam.

“Kemarin-kemarin saya ada lihat mbak-mbak cakep di kampus saya. Ada dua-tiga hari saya melihatnya di tempat yang sama terus. Terus saya jadi sengaja ke tempat itu terus buat ngeliatin mba-mba itu. Saya pikir, mungkin sekali dua mata kita bisa ketemu. Ternyata nggak ketemu sama sekali. Dan sebelum saya memberanikan diri buat kenalan, mbak-mbak itu sudah gak pernah ke tempat itu lagi. Terus suatu waktu, saya kebetulan ketemu lagi di dalam lift. Saya kaget. Kok bisa kebetulan gini pikir saya. Sialnya, karena kaget saya jadi gugup. Terus saya ngga ada ngomong apa-apa sama itu mbak-mbka. Terus saya pikir…waahhh..ada bagusnya juga kalau kita bisa ketemu kebetulan lagi.. Lagian saya satu kampus, jadi saya pikir kemungkinannya cukup besar buat ketemu lagi. Tapi mbak tahu? Sudah dua tahun dan saya gak pernah ketemu lagi sama mbak-mbak itu. Jadi ya saya pikir, sih, di dunia ini, gak ada yang namanya kebetulan.” Ujarku, berusaha terdengar semeyakinkan mungkin.

“Jadi menurut mas, obrolan kita ini sesuatu yang bukan kebetulan begitu? Semacam takdir gitu?” Balasnya. Masih mengernyitkan alisnya.

“Ya saya gak tau mbak. Bisa aja emang begitu. Atau bisa aja nggak. Dua-duanya sama mungkinnya. Jadi mungkin ya, ini mungkin aja sih mbak. Mungkin dengan kita kenalan bisa terjawab, mbak. Buat saya sih, ini soal menarik. Buat saya sih, tapi kalau mbak ya saya gak tau.”

Kali ini ia tertawa. Ya ya ya. Perempuan ini manis sekali. Pikirku. Kalau perempuan ini tidak ada manis-manisnya, pasti pertemuan ini hanyalah kebetulan. Pasti hanya kebetulan dan tidak boleh diperpanjang sampai kenalan. Kalau tidak ada manis-manisnya; aku semakin percaya bahwa di dunia ini penuh dengan hal-hal aneh dan segala macam jenis kebetulan. Ya. Pasti. Ya. Untung cakep. Pikirku lagi.

“Saya ngga pernah kenalan seperti ini loh mas.”

“Lah, apalagi saya mbak?”

Ia membunyikan “hmmmm..” dari bibirnya yang mungil. Kemudian ia melihatku yang sedang berdiri bersender pada teralis. Ia seperti menangkap macem gayaku yang berusaha mirip Ethan Hawke memunggungi matahari dan menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan dialognya dalam Reality Bites itu: “Jadi begini Catherine…”

Sayang sekali, matahari tidak bertengger di belakang punggung. Ia dua jengkal di atas kepala.  Karena aku berdiri, aku semakin pusing dan mual.

“Maryam.” Ujarnya. Kali ini ia yang mengulurkan tangannya.

Seketika mualku hilang. Cuma tinggal kepalaku yang masih pusing-pusing karena goyangan kapal. Pelan-pelan tanganku menyambut uluran tangannya.

“Gimana? Apa ada yang udah terjawab?” Lanjutnya.

“Ya kalau saja segala persoalan di dunia ini bisa terjawab dengan kenalan mbak.”

“Bisa aja, tapi pelan-pelan,” ujarnya.

“Ya mungkin ada yang akan terjawab dan ada yang akan nggak.”

“Kenapa nggak semuanya?”

“Karena curiosity killed the cat mba..”

“Gimana kalau saya minta dibuatkan candi dalam semalam?”

“Mmm, ya? Buat apa?”

“Kosong delapan satu… Delapan tujuh puluh… Satu satu tujuh…dua..” Jawabnya mengeja nomor ponselnya.

Ombak masih jatuh pada telapak tangan. Sementara sekarang sudah pukul 15.04 sore. 10 menit lagi feri kami berlabuh. Aku melempar pandanganku ke horizon yang jauh, dan melihat gerombolan camar yang pergi meninggalkan angin garam.

Di dunia ini, ada yang kebetulan. Ada juga yang bukan. Pikirku.

*Penulis merupakan mahasiswa Ilmu komunikasi universitas brawijaya

(Visited 79 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here