(PERSPEKTIF,Elisabeth)

Oleh: Zulfikar H.*

Sekitar pertengahan tahun hingga bulan Agustus ini, kampus-kampus di Indonesia nampaknya sedang disibukkan dengan serangkaian kegiatan yang besar dan ajek yang diselenggarakan dari tahun ke tahun. Kegiatan tersebut mulai dari registrasi ulang untuk mahasiswa baru hingga kegiatan pengenalan kehidupan kampus. Tidak hanya kegiatannya saja yang besar, tapi permasalahan yang muncul di tengah kegiatan tersebut juga cukup menarik untuk disimak. Permasalahan tersebut seperti banyaknya ketidaksesuaian uang kuliah tunggal (UKT) yang didapat dan harus dibayarkan mahasiswa baru saat registrasi. Pun tidak kalah menariknya mengenai permasalahan penugasan, kewajiban, dan sanksi dari kegiatan pengenalan kehidupan kampus. Seolah kegiatan pengenalan kehidupan kampus menjadi acara yang sakral dalam menyambut mahasiswa baru untuk mengenali kampus dan seisinya. Persiapan untuk merancang agar berjalan dengan sukses dilakukan dengan waktu yang lama dan membutuhkan banyak sumber daya manusia didalamnya.

Beberapa universitas telah menggelar kegiatan pengenalan kehidupan kampus seperti UI, UGM, UNS, dsb. Sedangkan, universitas dimana tempat penulis sendiri mengeyam perkuliahan, Universitas Brawijaya (UB), juga saat ini sedang menggelar serangkaian kegiatan pengenalan kehidupan kampus yang dilaksanakan tanggal 19-21 Agustus 2017. Namun, penulis merasa ada yang mengganjal di benak ketika melihat baik secara langsung maupun melalui media sosial dari tahun ke tahun kegiatan pengenalan kehidupan kampus terasa tidak ada yang berbeda.

Adanya kesamaan atas kondisi kegiatan pengenalan kampus lebih mengacu pada masih adanya beberapa hal yang semestinya tidak berada dalam rangkaian kegiatan pengenalan kehidupan kampus. Misalnya, pakaian dan kelengkapan yang dikenakan oleh mahasiswa terasa berlebihan. Terlihat mahasiswa baru berjalan kaki menuju kampus mengenakan pakaian dengan atasan putih dan bawahan hitam, tidak hanya itu saja mereka harus membawa kelengkapan seperti slayer, pita, nametag dengan ukuran yang besar, jenis sepatu yang sudah ditentukkan. Selain itu, penulis saat melihat mereka berjalan menuju kampus seperti sedang berada di Korea Utara karena menyaksikan sekelompok orang dengan tatanan model rambut sama yang sudah ditentukan oleh panitia kegiatan pengenalan kehidupan kampus. Hal seperti itulah yang membuat kegiatan pengenalan kehidupan kampus terasa berlebihan karena jika dinalar secara sederhana mengenai kegiatan pengenalan kehidupan kampus, idealnya merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mengenalkan tatanan kehidupan kampus yang nantinya akan dijalani oleh mahasiswa baru.

Berangkat dari itu penulis sangat meyakini kehidupan di kampus baik perkuliahan maupun kegiatan kemahasiswaan sehari-hari tidak menggunakan hal-hal berlebihan tersebut. Mengenai pakaian di kampus pun hanya berlaku sesuai etika yang sewajarnya, tidak sampai harus memakai pakaian yang dikenakan mahasiswa baru ketika kegiatan pengenalan kehidupan kampus.

Dengan demikian masih layakkah kegiatan pengenalan tersebut disebut sebagai kegiatan pengenalan kehidupan kampus, atau mungkin lebih cocok jika disebut sebagai kegiatan pengenalan kehidupan event karena kehidupan dengan mengenakan kelengkapan berlebihan seperti itu hanya ada pada event tertentu saja.

Jika ditinjau dari Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 25/DIKTI/Kep/2014 Tentang Panduan Umum Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru Bab IV. Tujuan huruf A menjelaskan bahwa tujuan umum pengenalan kehidupan kampus adalah memberikan pembekalan pada mahasiswa baru agar lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus, khususnya kegiatan pembelajaran dan kemahasiswaan. Pada huruf B dijelaskan lebih lanjut mengenai tujuan khusus dari kegiatan pengenalan kehidupan kampus. Berdasarkan penjelasan diatas tentu adanya hal-hal yang berlebihan pada kegiatan pengenalan kehidupan kampus seperti penulis paparkan pada paragraf sebelumnya, tidak terlalu berguna muatan nilainya dalam menunjang tujuan kegiatan pengenalan kehidupan kampus yang dicantumkan pada keputusan tersebut.

Apabila terdapat paradigma bahwa apabila mahasiswa mendapat tugas dan perintah yang lebih berat mampu melatih mereka lebih kreatif, menjadi mahasiswa tahan banting, dsb. Penulis rasa kegiatan praktik perkuliahan jauh berbeda jika hanya mengambil esensi dari hal-hal seperti itu untuk dikenalkan pada mahasiswa baru. Kenapa sudah setingkat pendidikan tinggi masih dikenalkan dengan kegiatan menggunting dan menempel untuk meningkatkan kerjasama atau kreatifitas seperti pada tingkat kanak-kanak?

Berdasarkan hal tersebut, kemudian yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah esensi dari adanya hal berlebihan yang terdapat pada kegiatan pengenalan kehidupan kampus. Dugaan penulis mengenai esensi, yakni panitia kegiatan pengenalan kehidupan kampus ingin sekali memberdayakan warga sekitar yang membuka usaha seperti ATK, printing, toko pakaian, dan toko kelontong karena dagangannya dibeli oleh mahasiswa baru untuk memenuhi kententuan yang diminta. Sungguh mulia sekali.

Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional 2016, Anggota Divisi PSDM LPM Perspektif

(Visited 327 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here