LAWAN – Aliansi Kebebasan Akademik sedang melakukan aksi terkait pembatalan diskusi “Salju di Aleppo” yang merupakan suatu pelanggaran terhadap kebebasan mimbar akademik. Jumat, (5/5) depan gedung Rektorat. (PERSPEKTIF,Atni)
LAWAN – Aliansi Kebebasan Akademik sedang melakukan aksi terkait pembatalan diskusi “Salju di Aleppo” yang merupakan suatu pelanggaran terhadap kebebasan mimbar akademik. Jumat, (5/5) depan gedung Rektorat.
(PERSPEKTIF,Atni)

Malang, PERSPEKTIF – Diskusi bedah buku “Salju di Aleppo” milik penulis Dina Sulaeman, digelar oleh  Laboratorium (Lab) Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), sebagai program diskusi dua bulanan dibatalkan oleh pihak Rektorat.

Bedah buku yang seharusnya dilakukan di Ruang Rapat Lantai 7A Gedung Darsono FISIP pun terpaksa berpindah tempat di Kafe Pustaka, Universitas Negeri Malang (UM), pada Jumat, (5/5) sore kemarin.

“Rektor merasa ada ketidaksetujuan dari beberapa kelompok masyarakat dan itu masuk lewat baik rektor sendiri ataupun dekan. Saya tanya siapa saja, Rektor mengatakan ada banyak, baik dari elemen luar maupun dalam kampus. Bahkan dari dosen UB di lain Fakultas sendiri ada, mungkin dari karyawan juga ada,” tutur Yusli Effendi, Sekretaris prodi HI, pada Jumat (5/5).

Yusli mengungkapkan, penolakan tersebut sudah meluas di berbagai kalangan baik di kampus sendiri dan luar kampus. Permintaan pembatalan menurut Yusli sudah ada sejak lama baik ke Dekan ataupun personal ke dirinya. Selain itu, Yusli mengungkapkan bahwa terkait identitas pihak yang melakukan penolakan, Rektor bungkam tidak menyebutkan identitasnya.

“Rektor tidak mau membuka itu, meskipun saya minta off the record tetap tidak mau buka,” ungkap Yusli yang ikut menemui Rektor.

Kronologisnya berdasarkan keterangannya tersebut, bahkan kelompok dari Jamaah Ansharusy Syari’ah (JAS) dengan empat orang, menekan langsung mendatangi salah satu dosen HI dalam bentuk intimidasi atau menekan.

“Mereka jatuhnya benci pada penulisnya. Saya yakin, setengah yakin karena saya tidak mengkonfirmasi. Saya hampir yakin kalau mereka belum membaca bukunya, yang mereka baca mungkin rekam jejak bukunya Dina Sulaeman di internet bagaimana dia menceritakan yang berbeda soal Suriah yang mungkin dapat merugikan kelompok tersebut,” terang Yusli saat ditemui pada akhir acara bedah buku di Kafe Pustaka, UM.

Selain itu, Mely Noviryani, Ketua Lab HI, ditemui terpisah saat acara diskusi dan bedah buku berakhir mengungkapkan rasa kecewanya terhadap pembatalan sehingga harus berpindah tempat di kampus lain.

“Saya juga tidak menerima surat apapun untuk membatalkan, tapi kemudian beredar di WhatsApp bahwa diputuskan untuk ditiadakan. Saya sendiri sebenarnya kecewa sekali karena ini kan harusnya kampus independen dari pihak manapun dan harusnya kita punya kebebasan untuk menyelenggarakan mimbar akademik seperti ini. Tapi di sisi lain, ini ada birokrasi juga yang kemudian tidak mungkin kami abaikan,” ungkap Mely (5/5).

Mely menyampaikan bahwa pada dasarnya diskusi yang diadakan oleh Laboratorium HI tersebut tidak mengangkat isu yang sensitif. Sehingga, pihaknya pun tidak menyangka akan reaksi publik yang terjadi terhadap acara tersebut.

Tanggapan juga datang dari  penulis buku “Salju di Aleepo”, Dina Sulaeman, ia mengungkapkan bahwa apa yang ia sampaikan dalam bukunya bukanlah sesuatu sektarian, yang selama ini dituduhkan olek pihak luar, tapi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan data-datanya, karena berbasiskan riset.

“Saya pikir seharusnya pihak kampus meneliti terlebih dahulu, ini sebenarnya bukunya tentang apa, background pendidikan saya apa. Jangan langsung meng-cut, tidak boleh diadakan acara ini. Mudah-mudahan ke depan tidak terulang lagi,” ungkap Dina yang juga merupakan dosen di Universitas Padjajaran tersebut.

Selain itu, pembatalan acara diskusi bedah buku “Salju di Aleppo” ini juga mengundang respon dari mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Kebebasan Akademik (Akad). Mereka menggelar aksi di depan gedung Rektorat UB pada Jumat (5/5).

“Sikap rektorat seperti itu menunjukkan bahwa rektor lebih bersahabat dengan ormas radikal (Jamaah Ansharusy Syari’ah). Rektor tidak memberikan kebebasan akademik, tapi memberikan panggung untuk kelompok intoleran melakukan intimidasi terhadap rektorat maupun pihak FISIP,” terang nanda pratama selaku kordinator lapangan.

Tanggapan dari pihak rektorat datang dari, Pranatalia Pratami Nugraheni, Kepala Sub-Bagian Kearsipam dan Humas UB yang membalas Perspektif  melalui pesan singkat, ia menjelaskan bahwa pembatalan diskusi yang dilakukan oleh rektorat dikarenakan berbagai pertimbangan serta masukan dari beberapa elemen ormas, civitas akademika UB yang terdiri dari dosen dan guru besar dan alumni.

“Bahwa bilamana diskusi ini dilakukan dapat menimbulkan kondisi yang kurang kondusif. Meskipun kita memiliki kebebasan akademik, kita tetap harus memperhatikan norma-norma dan tatanan masyarakat,”  jawabnya melalui pesan singkat pada Jumat (5/5). (ank/suf/ttm/yud/lta)

(Visited 305 times, 1 visits today)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here