Sumber gambar: Google
Sumber gambar: Google

Judul Buku  : Larasati

Penulis          : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit       : Lentera Dipantara

Cetakan        : 9, Desember 2015

Ukuran         : 13 x 20 cm

Tebal             : 184 Halaman

ISBN              : 978-979-97312-9-6

Oleh               : Ayu Aprilia Sari

 

Larasati merupakan salah satu roman karya Pramoedya Ananta Toer. Roman ini berbicara tentang potret perjuangan rakyat Indonesia dalam gelegak revolusi pascaproklamasi yang tidak memandang usia, profesi bahkan gender. Perjuangan anak-anak muda dalam merebut dan melahirkan revolusi kembali dari tangan para pemimpin yang angkuh, tergambar dalam perjalanan perempuan bernama Larasati yang merupakan seorang wanita cantik berkiprah dalam dunia seni menjadi aktris panggung dan bintang film tersohor di jaman revolusi.

Larasati yang biasa dipanggil dengan sebutan Ara ini digambarkan sebagai sosok wanita yang berani dan memiliki tekad yang kuat ingin membantu memperjuangkan revolusi. Kisah bermula dari perjalanan Larasati yang harus berpisah dengan Kapten Oding orang yang dicintainya untuk mencari ibunya yang seorang diri, dan Ia harus meninggalkan daerah pedalaman (Yogyakarta) menuju Jakarta yang pada saat itu genting karena pendudukan NICA. Ketika singgah di Cikampek, Ia didatangi oleh seorang opsir piket yang berniat untuk meminta bantuan Larasati untuk mencari tau tentang ajudan berserta pembantunya yang berada di Jakarta.

Dalam melanjutkan perjalanannya, Larasati menggunakan kereta api disertai dengan gegap-gempita anak-anak muda yang bersorak-sorai mengiringi perjalanan Larasati dan Larasati pun diberi sebuah selendang merah sebagai tandamata dari salah satu anak muda tadi. Waktu itu Larasati menangis, Ia berpikir jiwa-jiwa muda yang rela mengorbankan nyawanya tanpa mengharapkan apa-apa padahal jiwa satu-satunya itu entah nanti, besuk atau pun lusa mereka berikan kepada maut.

Sesampainya Larasati tiba di Jakarta, Ia ditemui dengan seorang announcer atau penyiar pada jaman Jepang bernama Mardjohan. Mardjohan mengenalkan Larasati pada kolonel Surjo Sentono yang nantinya akan berkerjasama dalam pembuatan film dengan Larasati jika Larasati mau. Ketika bercengkrama dengan kolonel, Larasati yang sangat ambisius membela revolusi membuat kolonel yang tidak sependapat dengannya menjadi marah yang pada akhirnya Larasati diajak untuk melihat penjara. orang-orang yang dipenjarakan tidak memandang laki-laki maupun perempuan sama saja. Tidak disangkanya dia bertemu Ketut Suratna yang tak lain adalah ajudan dari opsir piket yang ditemuinya di Cikampek tadi. Ajudan tersebut merupakan salah satu tahanan yang saat itu juga menderita sakit parah. Kondisi ajudan tersebut sangat menyayat hati, bahkan Larasati sempat pingsan melihatnya. Larasati pulang diantarkan oleh seorang sersan, Martabat namanya. Martabat merupakan sersan baru dari Sorong, Papua, yang dipaksa untuk masuk dalam NICA. Martabat mendengar bujukan Mardjohan kepada Larasati agar ikut dengan kolonel Surjo Sentono. Namun Martabat membantu Larasati untuk kabur dari Mardjohan dengan mobil yang dinaikinya dan dibawa untuk mencari Ibunya. Di situlah Larasati tahu bahwa Martabat tetap berpihak pada Revolusi. Martabat meminta bantuan kepada Larasati agar dapat pergi ke pedalaman dengan sebuah surat dan alamat darinya untuk masuk sebagai pejuang.

Di kampungnya Larasati bertemu dengan Kakek Mo dan nenek-nenek yang menjaga rumah Ibu Larasati ketika ditinggal kerja. Lasmidjah Ibu Larasati merupakan pembantu rumah tangga orang Arab yang bernama Jusman. Ketika Martabat menemui Larasati kembali, para pemuda di kampungnya merasa curiga. Martabat dan Larasatipun dimintai penjelasan tentang dirinya masing-masing. Lalu diajaklah mereka untuk ikut dalam pertempuran untuk meyakinkan kepada pemuda-pemuda kampung sebagai jaminan bahwa mereka berpihak pada revolusi. Larasati menyetujuinya, walaupun dia perempuan dan belum pernah bertempur sama sekali namun dia dengan berani menunjukan bahwa dia pun juga dapat berjuang layaknya pejuang meskipun ada rasa takut yang membayanginya. Pemimpin dari para pemuda tersebut harus gugur karena terkena granat yang dia lemparkannya sendiri.

Hari selanjutnya setelah mengikuti pertempuran tersebut, Jusman orang Arab majikan Lasmidjah mencari Larasati untuk menjadi penyanyi gambusnya. Larasati pun menolak karena dia tidak pandai bernayanyi gambus, namun akibat tolakannya Lasmidjah tidak diperbolehkan pulang. Setahun kemudian setelah Larasati hidup sendiri tanpa Ibunya, Ia mendengar bahwa Yogya jatuh. Larasati sudah tidak dapat menahan kesunyiannya, Ia ingin bertemu dengan Ibunya. Ia berjalan tanpa arah. Di pinggir jalan Ia bertemu dengan Chaidir seorang penyair terkenal. Chaidir meyakinkan Larasati bahwa revolusi itu hadir dari diri kita sendiri dan revolusi jatuh karena tercemar tangan pemimpin. Tidak lama kemudian Larasati bertemu dengan Jusman. Jusman mengandeng Larasati dan mengajaknya tinggal di rumahnya. Perjuangan tentang revolusi Larasati berada pada jalan buntu karena Jusman melarangnya untuk keluar rumah.

Selang beberapa tahun revolusi bangkit kembali. Pergerakan Jusman pun semakin lama semakin terdesak. Akhirnya Jusman harus memilih meninggalkan Indonesia. Larasati dan Ibunya pun bebas kembali ke rumahnya sendiri dan bertemu dengan Kapten Oding kembali.

Larasati yakin bahwa revolusi tidak pernah kalah, karena yang kalah adalah pemimpin yang koruptor dan revolusilah yang akan menang. Revolusi adalah diri kita dan bagaimana kita seharusnya menyikapi revolusi itu sendiri, karena itulah pemuda Indonesia yang selalu terus berjuang.

Dalam buku ini Pram meyakinkan pembaca bahwa perjuangan akan mencapai tujuannya jika kita berani melawan kesulitan dan pandai dalam mengendalikan keangkuhan diri kita sendiri. Pram dengan bahasanya menceritakan perjuangan rakyat Indonesia pada masa itu, di masa pascaproklamasi yang terlihat lebih nyata antara pemimpin dan rakyatnya.

(Visited 117 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here