Ilustrasi Opini, (PERSPEKTIF, Elisabeth Katharina Sihotang)
Ilustrasi Opini, (PERSPEKTIF, Elisabeth Katharina Sihotang)

Oleh: Permata Putri Ismah Ariani*

Kabar duka datang dini hari tanggal 21 maret 2017. Seorang ibu pejuang Kendeng, Mbok Patmi, meninggal dunia dalam perjalanan menuju RS St. Carolus Salemba. Beliau adalah satu dari puluhan orang yang rela memasung kakinya dengan semen, demi menuntut keadilan di depan istana negara.

Tentu saja bukan permasalahan sederhana yang mampu memicu puluhan petani di sekitar pegunungan Kendeng untuk berangkat ke ibu kota dan sudah satu minggu lebih bersikeras menunggu Presiden Jokowi dengan kaki terpasung. Ini bukan pertama kalinya aksi pemasungan kaki dilakukan oleh para petani Kendeng, tahun lalu, 9 orang ibu-ibu melakukan aksi yang sama.

Tentu saja melakukan aksi pengecoran kaki dengan semen tidak semudah yang selama ini digambarkan di media umum. Kebanyakan media hanya meliput aksi petani Kendeng di depan istana. Tapi dibalik itu ada ratusan relawan yang terlibat dalam melangsungkan aksi di depan istana negara. Para petani yang dipasung kakinya tersebut harus dilayani seperti bayi. Mereka harus dibopong ke kamar mandi, hanya dapat tidur dalam posisi terlentang, harus melakukan tayyamum jika hendak melaksanakan shalat.

Banyaknya ibu-ibu yang dengan sukarela ikut memasung kakinya demi menuntut keadilan membuat saya termenung, mengingat perjuangan yang mereka lakukan begitu berat. Banyak dari ibu-ibu ini yang bahkan tidak mengenyam pendidikan formal. Keseharian mereka hanya diisi dengan kegiatan bertani dan mengurus kebutuhan rumah tangga dan menjadi sangat mengharukan ketika menemukan mereka memeluk erat bendera merah putih sambil melangsungkan protes di depan istana negara. Perempuan yang dalam tuntutan masyarakat adat seringkali diletakkan di wilayah-wilayah domestik, kini berani menyuarakan tuntutannya atas keadilan.

Pergi jauh dari kampung halaman, meninggalkan anak, suami dan ternak, ibu-ibu ini menggugat korporasi yang sudah menanamkan modal lebih dari 5 triliyun rupiah untuk membangun pabrik semen. Mereka bukan hanya memiliki kesadaran atas ideologi developmentalis yang mengancam kelestarian alam, tapi mereka secara tegas menyatakan penolakkannya dan bersungguh-sungguh memperjuangkan keyakinannya. Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, begitu alunan lagu para petani kendeng.

Meletakkan bumi sebagai ibu, subjek hidup yang telah memberi banyak hal untuk mencukupi kebutuhan manusia, membuat mereka bersikeras memperjuangkan pegunungan Kendeng dari modal-modal kapitalistik yang hanya akan menimbulkan ketimpangan dan kerusakan alam. Mereka berpendapat bahwa jika manusia melukai sang ibu, bencana mungkin saja terjadi. Argumen ini dibangun masyarakat pegunungan Kendeng secara mandiri, tanpa mengenal apa itu eko-feminisme.

Selama ini masyarakat modern yang menyatakan dirinya terdidik, banyak mengkritisi posisi perempuan dalam struktur masyarakat tradisional dalam budaya patriarkis yang hanya diletakkan di wilayah dapur-sumur-kasur. Hal ini jelas dibantah oleh aksi para kartini kendeng yang menjebol anggapan domestifikasi perempuan tersebut. Tanpa mengeyam pendidikan formal, tanpa mengerti apa itu eko-feminisme, tanpa meneriakkan kesetaraan gender, ibu-ibu petani ini mempraktikkannya.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat tradisional cukup memberi ruang yang luas bagi perempuan turut dalam perjuangan dan mempertahankan hak ekonomi sosial politik mereka. Bahasan tentang kesetaraan gender memang tidak dikumandangkan dalam masyarakat tradisional (jawa khususnya), tetapi pada praktiknya ruang tersebut ada dan memungkinkan perempuan mengeksplorasi dunia selain masak-macak-manak.

Aksi ibu-ibu ini bukan formalitas semata, atau untuk menunjukkan bahwa perempuan tidak absen dalam panggung perjuangan. Aksi ini dilakukan karena kecintaan mereka pada Bumi yang masih akan memelihara anak cucu mereka. Bahkan kesadaran mereka unutk melawan sampai pada hembusan nafas terakhir.

Mbok Patmi yang meninggal di medan perjuangan menunjukkan keseriusan mereka melawan kebiadaban berantai dan mengikat banyak aparatus pemerintah. Seorang ibu wafat di medan perang dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Penulis Merupakan Mahasiswi Ilmu Komunikasi 2012 dan Pimpinan Divisi PSDM LPM Perspektif 2014.

(Visited 215 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here