BINCANG - Diskusi budaya tentang "Geliat Sastra Dalam Ruang Digital" digelar di Wisma Kalimetro pada 21/02/2017
BINCANG – Diskusi budaya tentang “Geliat Sastra Dalam Ruang Digital” digelar di Wisma Kalimetro pada 21/02/2017

Malang, PERSPEKTIF – Diskusi bertajuk “Geliat Sastra Dalam Dunia Digital” yang diselenggrakan oleh Komunitas Kalimetro, bertempat di Wisma Kalimetro, Jalan Joyosuko Metro No.42A Merjosari, Malang, pada Selasa malam (21/2) pukul 19.00 WIB. Muhammad Rois Rinaldi dari Lentera Indonesia, serta Permata Ariani dari Komunitas Kalimetro, hadir sebagai pembicara.

Dalam diskusi tersebut, dibahas mengenai geliat sastra di dalam dunia digital. Serta konvergensi media, antara cetak dan online. Apakah berdampak bagi penikmat dan pelaku sastra itu sendiri.

Permata Ariani menilai jika sastra masuk ke dunia cyber maka seseorang akan lebih bebas menuangkan ide yang dimilikinya. Sebab, dunia cyber merupakan ruang publik yang terbuka. Sehingga bebas dari tekanan pasar, penerbit, dan ruang yang tersedia. Hal itu yang tidak ditemukan apabila dalam bentuk cetak.

“Jika masuk media cyber kita tidak ada tekanan di sana. Kita lebih bebas menuangkan ide,” ungkapnya

Ia juga menambahkan bahwa sastra dalam dunia cyber, segmentasinya sulit untuk ditebak. Berbeda dengan dalam bentuk medium cetak, yang segmentasinya dapat diukur. Di dalam dunia digital juga umpan-balik yang diterima oleh penulis sastra lebih cepat. Tanpa harus menunggu surat pembaca yang cenderung lama bila menggunakan medium cetak.

“Jika digital menjadi sebuah medium. Akan membawa atmosfer yang berbeda. Media digital menjadi sebuah medium yang egaliter,” jelas perempuan mahasiswi Universitas Brawijaya tersebut.

Muhammad Rois Rinaldi, sastrawan dan juga penulis buku “Sastracyber: Makna dan Tanda” mengatakan, apapun mediumnya, baik cetak atau digital, pada akhirnya nanti penilaian publik yang akan menentukan karya sastra tersebut.

“Sastra cyber menurut saya hanyalah sebuah ruang, pada akhirnya proseslah yang akan berbicara. Dia akan diuji,” ungkap laki-laki kelahiran Banten tersebut.

Ia mencontohkan karya sastra seperti puisi dari WS. Rendra dan Wiji Thukul, mampu bertahan puluhan tahun lamanya, karena berdasarkan atas penilaian publik itu sendiri.

Rois menilai yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana menjadikan sastra cyber mempunyai daya tawar. Membuat typography dengan desain yang lebih menarik, serta video pendek yang berisi karya-karya sastra, merupakan inovasi yang ditawarkan Rois.

Menyinggung posisi sastra dalam kehidupan sehari-hari. Apakah harus berbentuk kritik sosial atau bersifat personal, ia menyatakan itu merupakan sebuah pilihan.

“Ada yang bilang kalau politik bentrok, sastra yang meluruskan. Tapi ada yang bilang sastra ya untuk sastra. Toh, itu pilihan pada akhirnya,” tuturnya

Rois mengungkapkan, karya sastra yang berbentuk kritik sosial maupun personal, mendapat tempatnya tersendiri di hati publik.

“Berbicara populer, Sapardi masih popular dengan puisinya yang bersifat sentimental dan Wiji Thukul populer dengan puisi temboknya” pungkas Rois. (lta)

(Visited 99 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here