Ilustrasi Sastra, Dari, dan Untuk Mahasiswa. (PERSPEKTIF/Ibet)
Ilustrasi Sastra, Dari, dan Untuk Mahasiswa. (PERSPEKTIF/Ibet)
Ilustrasi Sastra, Dari, dan Untuk Mahasiswa. (PERSPEKTIF/Ibet)

Oleh : Achmad Syarkowi Jazuli*

Sastra : Kronologi dan Urgensi

“Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan. (Pramoedya Ananta Toer)

Bagaimana perasaan anda ketika membaca kutipan sang maestro di atas? Lalu bagaimana dengan lanjutan kutipan yang dibawah ini :

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai. (Pramoedya Ananta Toer)

Adakah hati yang bergejolak ketika frasa-frasa itu dicerna secara perlahan, dan dengan diplomatis ditelan, apalagi dibaca oleh para mahasiswa. Menelisik sastra dalam etimologisnya shastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.  Serta dalam definisi secara luas, sastra adalah keindahan, lebih tepatnya seni dan seni adalah ekspresi palig jujur, paling otentik atas refleksi diri seorang manusia.

Dan sastra dalam seni adalah mengacu pada kata dan lingua franca dari komunikasi manusia yang primitif, tujuan utama tentunya untuk mengejawantahkan individu pada estetika dan kisah-kisah, yang nantinya menuntut pada ekspresi paling mendalam pada diri seorang manusia, yaitu jiwa. Sastra itu indah, pemujaan pada kosmos itu indah – yang dilakukan oleh para orang-orang terdahulu manakala belum ada agama yang sistematis – lalu muncullah sastra lisan yang dibarengi dengan mitos, folklore dan legenda. Cerita rakyat adalah buah hati sastra lisan yang kita nikmati tiap waktu kala masih “bocah”, percaya akan nilai-nilainya yang dibawa hingga sedikit demi sedikit pudar manakala sudah dewasa. Tapi di alam bawah sadar nilai itu tertanam, atau yang lebih tepatnya disebut sebagai proses insepsi, makin dalam, makin kuat mengakar seperti virus yang menjangkiti sistem komputer.

Mahasiswa, Pilihlah Sastramu

Dari situ terlihat bahwa seumur hidup kita digonjloki sastra, yang berkualitas maupun yang banalitas. Evolusi sastra dari lisan ke tulisan hingga hypertext menuju “cyberspace” berbasis teknologi yang dikawinkan dengan akses internet membuat sastra seharusnya makin mudah dikenal, tapi apa daya mahasiswa hanya terlena pada social media.

Ada banyak kegunaan sastra, dia wadah bagi orang yang galau, sedih, juga bahagia, saluran bagi provokasi, mobilisasi, kritik, hasutan dan fitnah tersembunyi. Dulu sebelum penjajah datang, hikayat kerajaan melayu memanfaatkan sastra sebagai bahan dokumentasi sejarah, khususnya kejadian-kejadian penting di nusantara berbentuk prosa macam “Hikayat Hang Tuah”, “Hikayat Pelanduk Jenaka” dan “Hikayat Raja-Raja Pasai”. Lalu di masa penjajahan sastra digunakan untuk menyebarkan semangat kemerdekaan, menyusupkan ideologi kepahlawanan layaknya Chairil Anwar, Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer. Sastra pun juga pernah “nakal” ketika Suharto duduk dalam tampuk kekuasaan, ialah Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara” berbarenganan dengan hilangnya Widji Thukul, seorang aktivis yang ganas protes dalam karyanya pada setiap kebijakan Orde Baru.

Pertanyaannya adalah sastra saat ini akan dibawa kearah mana? Apakah karena sudah tidak punya jalan dan makna, maka sastra sekarang menjadi kering akan arti. Globalisasi, modernisme, demokrasi dan liberalisasi menjadi bahan bacaan yang penting bagi bahan bakar sastra humanis, seni untuk seni – bukan bentuk revolusi dari realis – dan seni untuk dinamika sosial masyarakat. Bentuk sastra yang paling umum saat ini adalah Humanis, sastra yang murni sebagai seni, tidak meresap sebagai pengubah sistem sosial dan mobilisasi ideologi-ideologi pembangunan seperti realisme. Bagi pengamat sastra, seni realisme sekarang adalah barang yang terlalu mewah bagi penulis-penulis muda, yang tak relevan bagi iklim demokrasi, yang basi untuk dimakan, apalagi untuk ditelan, membuat perut sakit bukan kepayang.

Sastra Sebagai Alternatif Pergerakan Mahasiswa

“Fiksi menari bersama apa pun yang disentuhnya” (Hasif Amini)

            Bagi seorang agent of control social dan agent of change, apakah sastra tidak termasuk dalam corong-corong pemikiran budaya yang potensial. Dibanding membentuk organisasi, mobilisasi dan gerakan-gerakan yang sering terbentur aturan legal formal, baik demo maupun unjuk rasa yang tak jarang berujung anarkis. Mahasiswa saat ini terlalu sibuk pada “kulit luar”, bukan isi, apalagi estetika substansial dan mungkin juga sikap serta etika. Apakah mahasiswa sekarang akan menjadi “hewan yang pandai” seperti yang diungkapkan Pram dalam novel “Bumi Manusia”, atau tak lebih baik dari manusia paling primitif di benua Afrika yang masih mencintai sastra, walaupun hanya secara lisan. Bukan menggurui apalagi mengagungkan sastra secara membabi buta, tapi adakala mahasiswa melirik sastra sebagai bentuk alternatif pengembangan diri, sebuah terapi jiwa paling murah, bahkan gratis, atau menjadi alat perjuangan ketika semua cara bahkan yang paling terakhirpun tidak bisa memberi pencerahan yang memuaskan.

Mari kita berpikir sejenak tentang konsep “paradoks pembohong” dalam essai pengantar kumpulan cerpen “Para Pembohong” oleh Hasif Amini. Sebagai paradoks sastra identik dengan fiksi, kisah rekaan yang terkenal penuh ilusi, tapi kadang juga fiksi yang paling tak mungkin menjadi kenyataan tiba-tiba bisa muncul begitu saja, “dengan kata lain : teks tak usah dipercayai, tapi cukup seolah-olah dipercayai sebagai dunia peristiwa sungguhan” terang Hasif dalam persepsi orang banyak tentang fiksi, dan dilanjutkan dengan “Fiksi, dalam kodratnya memang tidak memikul tanggung jawab menghadirkan kebenaran faktual….fiksi tidak menyampaikan kebenaran secara logika seperti ilmu atau filsafat”, terang sekali bahwa sastra sebagai fiksi juga menyimpan kebenaran yang diambil dari dunia nyata, bukan seluruhnya, kadang sebagaian atau bahkan hanya sepertiga dari fakta yang ada.

Sehingga salah satu kualitas sastra yang paling melegenda adalah ketika menulis sebuah fiksi, anda tidak akan pernah dianggap sebagai penghujat maupun tukang fitnah, bagaimanapun juga itu adalah fiksi dunia khayalan imajinasi intelektual anda, hanya Tuhan yang berhak menghakimi seorang penulis fiksi, bukan siapapun selama ia hanya seorang manusia. Sehingga sastra bagi mahasiswa bisa menjadi alat paling aman dalam menghimpun pemikiran-pemikiran sebuah pergerakan, dengan cara elegan, cerdas, kreatif dan berestetika. Karena kalian (mahasiswa) menulis, oleh karena ingatlah baik-baik apa yang dikatakan Pram, seorang penulis terbaik yang dimiliki Indonesia, “suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari”.

*Tentang Penulis:

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Pemerintahan tingkat akhir.

(Visited 157 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here