Tiap tahun, melalui orientasi pengenalan ke­hidupan kampus di tataran Universitas maupun fakul­tas, mahasiswa baru diberi materi terkait bagaimana menjadi mahasiswa sesung­guhnya. Caranya pun be­ragam. Dengan mengikuti organisasi, misalnya.

Pertanyaan yang mun­cul kemudian adalah: apa­kah dengan berorganisasi status mahasiswa menjadi paripurna? Mestinya tidak. Paradigma demikian jus­tru mereduksi esensi dari berorganisasi itu sendiri, dan membuat berorganisa­si tercerabut dari konteks sosialnya. Ia hanya sekedar menjadi proses prosedural yang populer.

Bagaimanakah kemu­dian berorganisasi didefi­nisikan? Jangan-jangan, sedari awal definisi “beror­ganisasi” itu pun sudah lay­ak diperdebatkan.

Kita tentu berharap den­gan mengikuti organisasi, mahasiswa juga belajar un­tuk rendah hati. Dengan de­mikian, narasi yang dibuat tidak malah mendompleng status mahasiswa, memu­nculkan heroisme dari ti­ap-tiap individu kemudian menular ke kelembagaan organisasi.

Dengan berorganisasi, mestinya mahasiswa insaf bahwa apa yang dia laku­kan adalah hal-hal yang benar-benar diperjuang­kan, tanpa pamrih. Bekerja dalam senyap. Tanpa hi-ngar-bingar remeh soal apa yang mereka telah kerjakan.

(Visited 49 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here