Oleh : Kumba P Dewa

Sebanyak lebih dari 12.056 mahasiswa baru akan menjalani jalan kehidupan baru di Universitas Brawijaya dengan status baru sebagai ‘Mahasiswa’. Seperti yang dikemukakan oleh Siswoyo (2007) bahwa mahasiswa merupakan individu yang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, kecerdasan dalam berpikir, dan kerencanaan dalam bertindak. Kata ‘maha’ yang berarti lebih dari sekadar siswa, sebuah tingkatan tertinggi di atas siswa, di mana pemikirannya dituntut untuk jauh lebih berkembang dan kritis dalam berbagai fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Mahasiswa, dengan ilmu yang diperoleh dalam corong pendidikan tertinggi sejagat yang bernama ‘Universitas’, menjadi harapan untuk masyarakat Indonesia sebagai agen perubahan untuk membuat masyarakat Indonesia lebih makmur dan sejahtera.

Saya teringat dengan pertanyaan yang diajukan oleh ibu saya ketika saya memasuki dunia mahasiswa dua tahun yang lalu. “Mengapa kamu ingin kuliah?” begitu ujarnya ketika itu. Pertanyaan yang sedikit retoris sebenarnya, mengingat para orangtua ingin anaknya sekolah lebih tinggi daripada mereka, lulus dengan cepat, kemudian mendapat pekerjaan, hingga akhirnya menyunggingkan senyum orangtua dengan gaji pertama. Hal itu toh tidaklah salah. Orangtua mana yang tidak gemetaran melihat persaingan tahun 2016 yang makin menggila setelah gembar-gembor Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Takut bahwa anak-anak mereka tidak dapat pekerjaan hanya karena gagal dengan bangsa serumpun. Namun, sampingkan dulu perkara soal lulus dan mendapat pekerjaan. Menjadi mahasiswa bukanlah hanya sekadar bercokol di kampus, berkutat dengan berbagai ilmu hingga sampai berdebat di dalam kelas, berlomba-lomba meraih nilai terbaik di setiap mata kuliah.

Psikolog Behavioristik Albert Bandura menyatakan dalam teori belajar sosial, bahwa pengalaman seseorang, pengamatan, dan peniruan (modelling) terhadap lingkungan di sekitarnya berpengaruh penting bagaimana manusia belajar. Katakan saja ini adalah ‘seni’ dari belajar a la mahasiswa. Belajar di dalam ruang kelas hanyalah sekelumit pemantik ilmu saja. Mahasiswa—dalam hal ini adalah salah satu manusia yang sedang gencar-gencarnya melakukan aktivitas belajar—dituntut untuk belajar lebih banyak di luar ruang kelas. Lebih kritis terhadap segala fenomena atau isu yang sedang hangat di masyarakat. Ilmu dapat diperoleh di mana saja, mulai dari warung kopi angkringan di pinggir jalan, hingga kios koran di dekat stasiun kereta api sebagai kanvas kita untuk memaparkan karya seni. Diskusi disiplin ilmu atau kajian fenomena yang terjadi di masyarakat sebagai cat yang akan mewarnai tempat-tempat tersebut.

Terkait dengan pertanyaan “Kenapa kamu ingin kuliah?”, jawabannya tidak hanya sebagai batu loncatan untuk meraih karir di dunia kerja saja. Kuliah adalah proses yang  krusial, di mana mahasiswa di hadapkan pada keran ilmu yang bersumber dari mana pun. Hal itu akan menjadi pengalaman yang dapat membantu mahasiswa ketika nanti dalam menghadapi kehidupan setelah lulus dari perguruan tinggi. Untuk mahasiswa baru, setidaknya jangan lagi seperti masa lalu kalian di bangku sekolah dasar yang berebut cari nilai terbaik. Menyia-nyiakan empat tahun kehidupan di perguruan tinggi dengan uang mahal, hanya untuk mencari nilai. Tentu saja Albert Bandura akan menangis ketika menemui mahasiswa hanya belajar di ruang kelas, tanpa belajar dari lingkungan sekitar.

Tentang Penulis : Penulis Merupakan Mahasiswa Psikologi 2014. Saat ini aktif berproses di LPM Perspektif sebagai Pimpinan Divisi Sastra

(Visited 50 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here