Oleh : Ika Widiawati

Wadi berjalan ke Timur dan Barat di sore menjelang Maghrib dengan rambut tidak disisir. Tangan Wadi mengepal dan sesekali meninju tembok putih di-depannya. Matanya merah dan kakinya tak bersepatu. Wadi berjalan bingung di depan kamar dengan pintu kayu cokelat bertuliskan ‘Kamar 03 – mohon tunggu di luar’. Wajahnya kalut dan dirasainya hidungnya penuh dengan aroma alcohol dan aroma pahit, seperti pil.


Bulan belum lagi hilang dari langit pagi itu ketika Adzan Subuh berkumandang sayup-sayup. Hari ini terulang lagi, Surati mengangkat tangannya meraba jam di pergelangan tangannya yang dingin, niat utamanya adalah menekan tombol satu-satunya yang ia rasakan oleh jarinya. Lampu jam menyala. Dan…

“Pukul empat pagi.”

Terakhir Surati pergi dari pemondokannya adalah pagi, hari Selasa, untuk bekerja, tepat pukul delapan. Dan sekarang ia akan kembali ke ranjangnya Rabu dini hari.

Surati sering sekali pulang terlambat karena kebiasaanya ngopi di warung Bu Lasmi. Enak betul kopi disana, setiap Surati minum di jam 7 malam sepulang kerja, pasti beban pikirannya langsung hilang sampai pagi. Sungguh kopi dengan kekuatan ajaib. Surati biasa datang untuk ngopi 3 kali seminggu. Pertama di hari Selasa, kedua di hari Jumat dan ketiga di malam Minggu. Datang, Surati langsung mengambil duduk di meja paling pojok dan Somet pelayan warung langsung membawakannya kopi hitam di gelas tanpa pegangan atau gelas polosan, bukan di cangkir, saking hafalnya. Gelas polosan selalu membuat Surati sabar menunggu kopinya benar-benar dingin untuk dipegang dan diminum.

“Tidak apa kalau kau pulang begini terlambat, Surati?”

“Jalan saja, aku bawa kunci sendiri. Murah saja aku menggandakannya, Cuma 5 ribu untuk satu kunci, ” tutur Surati dengan tertawa-tawa. “Aku gandakan sampai 3 sekaligus.”

Hari ini Surati pulang diantarkan oleh Wadi, seperti biasanya. Namun ada yang tidak biasa, hari ini, semua kopi Wadi yang traktir untuk Surati. Baru saja Wadi dapat komisi dari pembeli motor bekas. Sebagai makelar, Wadi berhasil mendapatkan motor tahun 70-an langka sehingga ia dapat sedikit bagian. Bagian keberuntungan, katanya, bangga.

“Berhenti sebentar bisa, Wad?”

Wadi berhenti. “Sungguh percuma, merokok di atas motor akan membuat rokokmu cepat habis. Bukan kau hisap, amper yang hisap.” Wadi menceracau.

Surati tidak begitu bersemangat menyahut dan tetap mengambil sebatang rokok dari saku jaketnya dan menyulutnya dengan pemantik. Kemudian Wadi langsung melajukan motornya lagi ke tengah jalan.

“Bagaimana kau tau aku selesai?”

“Asap rokokmu kau tiupkan kearahku, lain kali jangan lakukan lagi.”

Pekerjaan di supermarket sungguh menjenuhkan. 3 hari di warung kopi adalah saat-saat manis pembuang penat. Selasa, Jumat dan Malam Minggu bukan rutinitas tanpa sebab. Di tiga hari itu, Surati benar-benar kalut. Selasa, stok barang dari pabrik berdatangan dan harus di-cek satu per-satu dan disusun di rak dengan rapi, di hari Jumat Manager kepala selalu datang berkunjung untuk melakukan pemeriksaan dan selalu saja mengomel ini itu dan Malam Minggu menjadi paling menyedihkan karena tidak ada pasangan pun dimiliki Surati di usia yang sudah hampir 4o. Untuk usia perawan, Surati sudah masuk dalam golongan perawan tua. Kadang terbersit ingin berkawin secepatnya saja, pada siapa saja yang jantan dan masih hidup, bahkan kalau umurnya kurang setahun lagi. Surati ikhlas.

Motor yang dinaiki oleh Wardi dan Surati akhirnya sampai di sebuah pemondokan khusus perempuan. Terlihat satu satpam sedang duduk sambil tidur di dalam pos kecilnya, ukuran sekirar 2 x 3 meter.

“Sampai sini, kau bisa masuk kesana?” Tanya Wadi.

“Apakah kau akan membantuku masuk?” Tanya Surati, dengan mata yang berkerling berkali-kali. “Bisa dibakar anak sepondokan kau,” Surati meneruskan sambil tertawa-tawa dan menggelayut di pundak Wadi.

Satpam pondokan yang akhirnya bangun mendengar percakapan Wadi dan Surati sepertinya kurang suka dengan pemandangan baru saja disaksikannya. Dua orang laki-laki bersarung serta tiga ibu bermukena yang pulang dari shalat Shubuh memandang kami sangsi. Pasti dalam hatinya sudah lebih dari 33 kali ber-Istighfar. Astaghfirullah.


Wadi selalu saja gentar. Jika nama Surati muncul dalam pikirannya. Apalagi jika Surati benar muncul di hari Selasa, Jumat dan malam minggu di warung kopi Bu Lasmi. Belakangan Wadi menyimpan perasaan tertentu kepada Surati. minimal 3 kali  dalam seminggu, di hari-hari keramat Surati, hatinya selalu berdegupan dan dadanya selalu panas. Tingkahnya selalu saja tidak biasa, sampai-sampai meminum 5 kopi sekaligus saking paniknya. Tak berhenti di situ, jika saja memikirkan Surati dan apa yang sudah Wadi lakukan kepadanya. Sungguh, lebih baik menutup saja warung kopi ini. Cocok juga, bulan puasa. Kalau tidak rela menutup sendiri, ya, sudah pasti ditutup oleh Pemerintah desa.

Lagipula orang desa sini sungguh patuh, jika bulan puasa tiba, mereka benar menjaga syahwatnya, bahkan seusai berbuka. Sudah pasti warung kopi jadi sepi.

Warung Kopi Bu Lasmi adalah tempat paling asik untuk bermain wanita. Selain harganya ‘miring’ (kopi dan wanitanya) tempatnya juga luas dan dingin karena setiap kamar dilengkapi dengan kipas angin, satu. Warung kopi ini sebenarnya adalah milik Wadi selain pekerjaannya sebagai makelar motor bekas dan Lasmi adalah nama pelacur desa yang mati akibat penyakit kelamin, sayang benar memang, tak diragukan, Bu Lasmi terkenal sangat cantik dan kulitnya jika diraba sangatlah halus dan kesat seperti lantai keramik sehabis di-pel. Karena Lasmi lebih diingat daripada Wadi, si pemilik warung lacur, maka warung kopi ini dinamai dengan nama Warkop Bu Lasmi.

Dari hari pertama Surati datang ke kedai Wadi, sungguh di hari itu juga Wadi menyuguhkan minuman memabukkan. Ditaruhnya sebotol disamping kopi yang selalu dipesan Surati, kopi hitam di gelas polosan.

“Apa ini?” Tanya Surati di hari pertama Wadi suguhkan minuman memabukkan.

“Minumlah, Manis. Pasti kau banyak pikiran, taka da perempuan bahagia yang datang kesini,” Wadi menjawab sambil berkutat dengan pemantiknya dan memainkannya tanpa melihat kearah Surati. “Yang datang kesini hanya yang mencari kebahagiaan.”

Surati pun minum dan setengah jam kemudian dia sudah benar-benar mabuk. Dan Wadi membawa Surati ke kamar lacuran. Namun tak terjadi apapun, hanya berbincang biasa dibawah kipas angin. Kicauan terbanyak datang dari Surati yang menceritakan kesusahannya dalam pekerjaan dan nasibnya sebagai perawan tua. Wadi lebih banyak diam.

Baru di malam ke 21 Wadi tak kuasa menahan birahinya kepada Surati. Semalaman sepulang kerja, 3 kali seminggu kalau Surati tidak haid, Surati milik Wadi seorang. Dan mereka selalu bercinta dibawah kipas angin di kamar lacuran Warkop Bu Lasmi selama setahun penuh dengan bergairah.


Gerak langkah Wadi terhenti. Suara bayi menangis bersamaan dengan adzan Maghrib memenuhi telinganya dan Jantungnya sempat kaget sedikit mengetahui gagang pintu kamar 03 terjadi gerakan dan pintunya berdecit. Terbuka. Keluarlah dua orang perempuan berbaju putih dengan aroma pil pahit dan alcohol itu membuka sarung tangan dengan berkas darah dan membuangnya di tempat sampah. Ketika melihat Wadi, salah satu dari dua perempuan ini tersenyum dan berkata:

“Laki-laki, Pak. Sehat. Bu Surati juga baik-baik saja. Selamat bapak sudah menjadi ayah.”

Perkataan dua orang perempuan (bidan dan susternya) itu membuat Wadi terduduk lemas. Bahagia. Sekaligus membayangkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Tentang Penulis : Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2014. Saat ini sedang berproses di LPM Perspektif sebagai pimpinan divisi PSDM, anggota Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan dan anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.

(Visited 69 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here