Oleh : Anastasia Anjani

 

Rasanya sore ini cukup indah untuk datang ke acara itu. Acara tentang perkumpulan pecinta puisi. Sore yang cerah ini mendorongku untuk terus melangkah ke acara tersebut. Aku sangat mencintai puisi semenjak kecil karena ibuku adalah penulis puisi sejati yang kudambakan. Acara dimulai pada pukul empat sore, sore itu menjadi sore yang menyenangkan,menenangkan, dan menghanyutkan. Setiap puisi yang dibacakan oleh orang orang terdengar sangat indah dan syahdu didalam hati.

            Ada satu puisi yang sangat menarik hatiku,aku  rasa itu puisi yang sangat indah dan sedikit tak kumengerti artinya. Saat acara telah selesai kukejar cepat pembaca puisi itu,rasanya tengaku sudah kucurahkan untuk mengejar orang tersebut.

“Hai,tunggu aku ingin bertanya siapapun namamu itu?” ucapku sedikit terengah engah.

Dia terhenti sejenak lalu menoleh kearahku. Senangnya hatiku akhirnya dia berhenti,karena sepertinya dia dari tadi tak mendengarku saat aku mulai mengejarnya. Sepertinya dia sedang mendengarkan musik.

“Iya ada apa,kau memanggilku?” ucapnya sambil melepas earphone ditelinganya.

“Aku ingin bertanya apa maksud puisimu itu,rasanya masih klise untuk kuterima?”

“Kalau kau ingin tau cari temui aku di perpustakaan Fisip.Aku pasti disana. Sebelum jam 12 ya.” Lalu ia pergi naik angkot tanpa memerhatikanku.

Akhirnya aku akan mendapat jawaban. Rasanya aneh.Kenapa tiba tiba aku sangat terobsesi dengan puisi itu?Aku pun melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Jarak rumah dengan tempat tadi yang kudatangi tak begitu jauh. Begitu sampai rumah, aku pun langsung tidur dikamar.

Esok hari pun tiba aku pun bergegas untuk menemui entah namanya siapa.Yang jelas aku sungguh penasaran dengan maksud puisi itu. Sekarang sudah jam 10.Lebih baik aku pergi sekarang, karena aku tak ingin dia beranjak dari tempat itu. Setelah sampai di tempat tujuan, langsung aku mencari pria yang tidak kuketahui namanya itu.

“Hai!” tegurku kepada dia.

“Hai kau sudah datang,sebegitu penasarannya kau dengan puisiku. Niat sekali kau datang,” ucapnya sambil menyerngitkan senyum kepadaku.

“Kaukan sudah janji,aku orangnya kalau penasaran langsung kutepati janji itu. Oh iya aku belum tahu siapa namamu?”

“Panggil saja Embun. Baca buku ini kalau kau ingin tahu apa arti puisiku,” ucapnya sambil memberikan sebuah buku kepadaku.

“Kau tak ingin tau namaku? Kenapa kau tak ingin menanyakan namaku. Memangnya aku tidak penting, Embun?”

“Tidak.Kau yang mengejarku berarti kau tidak penting bagiku.”Ia langsung pergi tanpa pamit terlebih dahulu.

“Embun,namaku Senja kalau kau ingin tahu!” Aku berteriak sekuat tenaga.

Orang orang di sekitar perpustakaan melihatku sinis, seolah-olah aku adalah monster pengganggu kehidupan. Kenapa pula dia memberikanku buku mata kuliah yang membosankan. Judul bukunya saja membuat aku tak ingin membacanya. Diplomasi? Apa ini? Kenapa kalau berhubungan dengan negara bukunya setebal ini. Malas sekali rasanya membaca.Buku mata kuliahku saja rasanya ingin kutinggal tidur saja.

Saatku buka halaman pertama tertulis “Hai,yang penasaran akan puisiku baru kali ini aku menemukan orang sepertimu.” Tulisan pertama rasanya membuatku geli sendiri karena tulisan ini seperti motivasi untukku sendiri. Lalu aku baca beberapa halaman buku selanjutnya rasanya membaca beberapa halaman saja sudah membuat otakku panas. Berbeda sekali dengan buku yang aku konsumsi setiap harinya. Aku ingin membaca novel sastra saja beri aku 100 buku sastra kan kulahap daripada buku ini membuat aku otakku berputar terus putar saja otakku Tuhan.

“Andai aku anak HI dulu supaya aku bisa mengenalmu dan aku tak harus penasaran pada puisimu itu” ucapku sambil menggaruk garuk kepala.

Kulihat arloji ditanganku,aku kaget waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Yaampun aku melewatkan kelasku,aku tidak pernh bolos sebelumnya rasanya aku benar benar lupa Tuhan. Aku pun memutuskan untuk pulang kerumah saja rasanya sudah benar benar lelah diriku ini.

Setalah sampai rumah aku pun membaringka diriku diatas kasurku yang sangat nyaman. Lalu tiba tiba hpku berdering menandakan ada pesan yang masuk.

Ting Ting…

“Hai Senja,apakah kau sudah lelah membaca pesanku ini,rasanya kau baru baca awalnya saja.”

Aku pun kaget bagaiman lembu tahu pesanku padahal aku tidak memberitahunya,dan juga dia tak menanyakan namaku karena aku tidak penting. Aku pun membalas Line darinya.

“Lembu bagaimana kau tahu lineku,kau saja tidak menanyakan namaku. Bagaimana kau tahu semua itu. Bisakah kau ceritakan padaku singkat cerita dari buku itu,please rasanya kepalaku sudah mau botak. Aku beda dengan kamu.” Balasku.

Tak lama kemudian Embun membalas pesan singkatku.

“ Dalam berhubungan dengan negara lain kita tidak bisa seenaknya senja, kamu harus mempelajari budaya,ekonomi serta politik negara tersebut. Kau juga harus mempelajari undang undang serta kebijakan yang dibuat oleh negara itu. Aku analogikan ya kalau kau ingin mengenalku kau tidak boleh seenaknya mengejarku,apa apaan itu perempuan mengejar pria bukan kodratnya dengan emot senyum jahat.”

Aku pun kaget dan setengah tertawa membaca pesan singkat tersebut. Rasanya baru pertama kali aku mengenal orang seperti Embun. Kami pun melanjutkan percakapan tidak jelas kami hingga aku tertidur duluan. Lalu Embun menuliskan pesan kepada diriku yang bebunyi “Senja temui aku di hutan kota Malabar mungkin kita bisa berbagi kisah sedikit,aku rasa kau perlu berbagi tentang puisimu juga. Semoga mimpimu selalu senja.”

Esok paginya aku membaca pesan darinya sungguh aku merasa kaget dan senang dengan pesannya yang manis. Rasanya aku mulai jatuh pada Embun, tidak aku tidak boleh jatuh terlalu cepat ke Embun. Aku tidak mengenalnya dengan baik lagi pula dia juga penuh dengan teka teki dan misteri. Tunggu aku kan gak tahu jam berapa aku harus kesana,aku tak tahu jam berapa aku harus pergi. Embun kau memang suka sekali menggodaku.

Mungkin karena namaku Senja aku hanya mengikuti instingku saja. Jadi aku akan datang pada saat senja saja. Kalaupun dia dateng siang aku akan membuat dia menungguku saja. Ya aku akan dateng saat Senja itu saat yang paling aku suka dalam hidupku. Sebelum ke Hutan Kota Malabar aku pun pergi ke kampus terlebih dahulu untuk mengikti kelas,aku tak mau bolos lagi kali ini. Setibanya di kampus temanku Witri menanyakan heran kenapa aku membawa buku Diplomasi.

“Eh ja, ngapain kamu bawa buku diplomasi mau pindah jurusan HI,belajar sastra aja udah buat kita pusing kali,memang dewa kali ni anak,” ujar Witri sambil heran.

“Aku ingin memecahkan teka teki tri,aku rasa aku harus masuk HI untuk mengetahui dia lebih dalam seperti diplomasi mengetahui cara berhubungan dengan negara lain,” ujarku sambil sok sok mengerti.

“Emang ya temenku yang satu ini saking pinternya beberapa pulau dilampaui,” ucap Witri sambil menyenggolku.

Sore hari pun telah tiba saatnya aku menuju Hutan Kota Malabar. Mungkin penatku saat ini, aku harus melihat sesuatu yang hijau. Aku pun pergi menaiki sepeda motor kesayanganku.Suasana Malang kalau sore hari sangat menyenangkan dan menetramkan sekali.Aku ingin sekali menghabiskan soreku bersamanya. Saat tiba di hutan kota Malabar pun aku melihat kekanan dan kekiri, aku tak melihat Embun sama sekali. Apakah Embun tidak datang? Tidak mungkin Embun harus datang kali ini. Tiba tiba sesosok dari belakang mengagetkanku.

Sore,rasanya ingin kuhabiskan sore ini bersama Senjaku. Kata kata yang membuat aku meleleh seketika.

“Apaan si bun,jelek dan gak romantis,kok tahu si aku mau datangnya sore.” Ucap senja sambil melepas helm.

“Aku kan tahu kau, tapi kau yang tak tahu aku,” Tuturnya iseng.

“Ayo duduk dikursi panjang itu, yang dibawah pohon rasanya sore hari kalau dihabiskan dibawah pohon akan semakin romantis,” Ajak Embun kepadaku.

Aku pun pergi menurutinya untuk duduk dibangku dibawah pohon besar bersama Embun rasanya mungkin itu akan menjadi sore terbaikku. Embun membuka tasnya dan mengambil buku kecil dari tasnya yang sudah tersampul warna oranye. Kemudian dengan suara seperti layaknya penyair dia membaca puisi di tempat pertama kali aku bertemu dengannya.

Senja,mentari pun terlihat mulai lelah.

Senja,nampaknya pohon mulai meneduhkanku.

Senja, nampaknya burung burung terus menari di langit sana.

Senja,rasanya sore ini sendu jika kau tak disampingku.

Nampaknya aku mengetahui betul puisi yang barusan dibaca oleh Embun. Itu kan puisiku tak asing lagi tak asing lagi ditelingaku. Tunggu itu kan seperti bukuku juga yang ada ditangannya.

“Hei,Embun itu kan puisiku dan itu juga bukuku kenapa ada padamu?”

“Kau yang meninggalkan ditempat pertama kali kita bertemu dilantai. Kenapa kau menulis puisi dengan namamu sendiri rasanya kau terlihat sangat kesepian.”

“Puisi itu kan tentang rasa dan hati. Aku rasa senja adalah waktu yang paling indah saat kita dekat dengan alam aku tak kesepian. Kalau aku kesepian aku mungkin hanya akan menulis puisi. Menulis puisi sangat cukup bagiku.”

“Kenapa kau penasaran dengan puisiku,sebenarnya puisiku hanya bila aku pergi dari negara ini dan tidak pernah kembali,seperti buku yang kuberi, aku ingin jadi diplomat aku ingin bekerja dalam bidang kebudayaan.Menurutku dunia sastra di Indonesia harus diketahui oleh negara negara lain,aku ingin jauh dan tak ditemukan dimana aku berjuang menjaga Indonesia saat tak disuruh oleh negara,” ucapnya sambil menutup buku berisi puisi puisi ku.

Aku pun semakin takjub pada Embun aku rasa alasan dia maksud HI bukan hanya sekedar ingin keluar negeri seperti anak anak lain. Aku rasa juga dia seperti namanya Embun yaitu selalu menjadi titik indah didaun yang hijau. Aku suka Embun walaupun sepertinya kecil jika didaun itu,mungkin kalau tak ada Embun daunnya tak seindah itu.

Benar,ternyata sore itu menjadi sore terindah menjadi sore yang tak hanya kuhabiskan dalam puisi puisi senduku. Semoga Embun selalu menjadi Embun dalam senjaku. Sebelum pertemuan kami berakhir Embun mengeluarkan kartu post dari negara lain. Senja aku mau kesini dan tak kembali lagi aku harap kamu mau menemuiku disini.

Aku kaget melihat kartu post ini terlihat seperti klise bagiku seperti puisinya. Kenapa Embun harus hilang dari daunku. Kamu tak boleh hilang Embun. Daunku akan jadi biasa saja nantinya. Aku sedih mendengarnya.

“Kenapa harus jauh ke Paris, Embun,kuliahmu saja belum selesai bagaimana kau bisa mewakili negara kita kalau kau belum tamat?” tanyaku gelisah.

“Kau harus menemukan sendiri kenapa aku pergi,aku akan tetap kuliah akan tetap melanjutkan mimpiku untuk menjadi diplomat yang mencintai sastra,aku rasa Paris adalah negara yang mencintai itu.” Ucap Embun singkat lalu dia pergi seketika ketika aku hendak mengucapkan selamat tinggal.

Sungguh sore yang indah kala itu tetapi juga menjadi Sore yang aneh kala itu. Tapi mengapa aku tak bisa sedih mungkin karena aku belum terlalu mengenanya lebih jauh tapi aku ingin mengenalnya,kenapa dia pergi. Sungguh ini teka teki yang baru harus kupecahkan sendiri rasanya tanpa bantuan Embun sama sekali. Aku pulang dengan sejuta pertanyaan dikepalaku.

Aku heran pada Embun, sungguh dia selalu membuatku heran. Setelah sore itu berlalu aku habiskan sore seperti biasanya menulis puisi. Puisi tentang senja dan hal lainnya. Sudah satu tahun aku tak pernah mendengar kabar dari Embun medsosnya pun juga tidak aktif aku heran kenapa dia sangat penuh dengan teka teki dan sangat aneh. Pasti aku berhasil menemukan jawabannya suatu saat nanti. Mana ada uang aku ke Paris bodohnya dia,memangnya ke Paris seperti kesini Hutan Kota Malabar mana ada.

Aku terus mencari informasi mengenai alasan Embun pergi ke Paris ada alasan lain di kampusnya juga tak ada pertukaran pelajar ke Perancis ataupun hal lainnya aku sungguh heran. Aku pun ingat buku Diplomasi yang Ia berikan masih belum sempat aku kembalikan. Mungkin ada beberapa petunjuk yang bisa aku temukan untuk mengetahui semua jawaban itu. Teka teki tentang dirinya,atau apapun itu mungkin. Aku menaruh buku itu dalam rak bukuku sudah agak berdebu dan jarang aku buka mungkin karena aku terlalu bosan mempertamyakan kehadirannya.

Lembar demi lembar aku buka buku tersebut aku heran aku tak menemukan apa apa mungkin memang tak ada apa apa dibuku tersebut. Aku terus mencari dan mencari. Sampai pada akhirnya aku menemukan sticky notes yang bertuliskan “Jangan cari aku dibuku ini Senja,aku gak akan kau temukan.” Seperti biasa dia selalu membuatku heran dan terus bertanya terus saja kau mengoyak ngoyak pikiranku terus saja.

Waktu demi waktu kulewati,aku menjalani hari dengan rasa syukur dan juga penuh pertanyaanku tentang dirinya. Sudah 10 tahun rasanya Embun tak muncul didaunku lagi,kemana dia. Sudah 5 tahun juga buku antalogi puisiku terbit dan 5 tahun kemudian atau sekarang ini aku siap ke kancah Internasional. Buku yang menulis tentang Senja dan Embun diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Sungguh suatu pencapaian yang luar biasa aku tahu Embun selalu menjadi klise dalam kehidupanku sepertinya memang dia klise.

Setelah jumpa pers dan beberapa pertemuan atau hal lainnya yang aku lakukan aku merasa lelah dan ingin jalan jalan sebentar ke menara Eifell,aku tak tahu haru kemana lagi aku rasa aku hanya mengetahui Eifell karena Embun yang menyeruhku kesini. Embun andaikan kau tahu aku disini.

Sesosok bermantel mengagetkanku memberi foto polaroid sore hari Hutan Malabar dan memberiku segelas kopi. Rasanya aku tahu,aku tak tahu apakah aku salah atau ini hanya imajinasiku saja.

“Kau pasti akan menemukanku disini,benarkan dugaanku tak pernah salah,” ucap Embun yang suaranya sangat mengagetkan serta merindukan.

“Dari mana saja kau bodoh,aku menunggumu 10 tahun lamanya. Mencari yang kau yang klise ini.”

“Memang benar didunia ini yang indah hanya dua yaitu Senja dan Embun,” ucapnya singkat.

Pertemuan kami yang lama itu seakan menjadi sore terindah yang pernah ada, aku harap dia tak pernah meninggalkan aku lagi. Aku harap kamu tidak klise lagi Embun.

“Tenang,kali ini aku tak akan hilang Senja,aku kan embun didaunmu,” ucapnya sambil tersenyum manis.

Aku rasa aku tak perlu tahu alasan Ia pergi tiba tiba. Embun didaun saja suka hilang tiba tiba. Tiga hal yang indah didunia ini : Senja,Embun dan Sore.

Tentang Penulis : Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2015. Saat ini sedang aktif berproses sebagai anggota LPM Perspektif.

(Visited 82 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here