Setiap tahun  perguruan tinggi mengadakan hajatan besar untuk menyambut para mabanya.   Hajatan yang sering disebut masa orientasi maba ini ditujukan untuk memperkenalkan budaya dan kehidupan kampus. Selepas orientasi mahasiswa yang berlangsung selama 3 hingga 4 hari, maba tak lantas lepas dari aktivitas – aktivitas yang diwajibkan karena kemabaannya. Maba masih akan terus  mengikuti masa orientasi yang berlangsung beberapa kali dalam satu semester. Memang,  untuk mengenalkan kehidupan kampus tak cukup hanya dalam waktu beberapa hari saja. Namun saya menemukan dua hal yang saya rasa tidak relevan dengan pengenalan studi dan kehidupan kampus, yaitu mewajibkan penggunaan kartu tanda pengenal dan jas almamater selama satu semester kepada mabanya.

Penggunaan kartu tanda pengenal kepada maba  hanya akan menekankan inferioritas maba terhadap superioritas mahasiswa lain yang sudah tidak maba lagi. Apalagi jika hal tersebut diikuti dengan kewajiban maba untuk menyapa atau dalam rangka menghormati seniornya.Terkait rasa hormat,saya rasa adalah hal yang patut dijunjung tinggi terutama oleh mahasiswa yang dianggap sebagai kaum intelektual. Terlepas dari mahasiswa tersebut baru atau lama, sepatutnya saling menghormati.  Immanuel kant pun mengatakan bahwa sebuah keharusan menghormati sesama martabat manusia. Terlepas dari siapa dan apa posisinya. Bukan hanya diharuskan  kepada kelompok tertentu.
Hal yang kedua ialah kewajiban mengguanakan jas almamater selama satu semester. Jika ini diperuntukkan agar maba ‘kenal’ dengan kehidupan kampus. Saya rasa pengguanan jas almamater ini bukanlah hal yang tepat. Selama saya duduk di bangku kuliah belum pernah saya menemui satu pun mahasiswa yang menggunakan jas almamater selama kegiatan perkuliahan. Hal ini berarti penggunaan jas almamater selama perkuliahaan di kampus tidak sesuai dengan budaya kampus itu sendiri. 
Lebih tidak relevan lagi jika peraturan ini ditujukan agar timbul rasa cinta terhadap almamater. Cinta almamater bukan berarti menggunakan jas almamater setiap hari. Apakah dengan jas yang lusuh, bau keringat karena pemakian yang terus menerus dalam satu semester lantas dapat membuat mahasiswa mencintai dan menghormati almamaternya? Saya rasa tidak. Mengharuskan maba menggunakan jas almamater justru hanya akan menyederhanakan arti cinta terhadap fakultas itu sendiri.
Tentang Penulis:
Rany Dewi Anjani
Mahasiswi Ilmu Komunikasi 2012, Redaksi LPM Perspektif 2015
(Visited 40 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here