Sistem pendidikan kita bukan lagi sistem pendidikan yang murni untuk “…meningkatkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa…” seperti yang tertera pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia pun bukan lagi wacana baru bagi kita. Tetapi hingga saat ini sistem pendidikan kita belum juga mendapatkan angin segar. Tidak sedikit pula orang yang mengadakan penelitian tentang bagaimana sistem pendidikan yang cocok untuk Indonesia dalam jurnal-jurnal dan disertasi. Jika diasumsikan orang yang peduli dengan sistem pendidikan adalah orang-orang yang rata-rata menempuh pendidikan tinggi kependidikan, seharusnya sistem pendidikan kita sudah mendapat angin segar. Karena jumlah lulusan S-1 kependidikan saja telah mencapai 240.000. Ada usaha yang dikeluarkan untuk mengkerdilkan sistem pendidikan kita. Ironisnya saat ini sedang marak dilakukan di berbagai perguruan tinggi, salah satunya adalah perguruan tinggi yang menjadi Universitas yang menerima mahasiswa baru terbanyak di Jawa Timur yaitu 13.387 pada tahun 2015 ini. Mulai dari jumlah mahasiswa yang besar, hingga biaya kuliah yang besar pula seakan berlomba-lomba menjual barang dagangan dengan menyertakan iklan yang semenarik mungkin untuk membuat calon konsumen tertarik membeli yang pada akhirnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Sistem pendidikan dalam perguruan tinggi tersebut mengingatkan saya terhadap pengaruh atas bergabungnya Indonesia dengan World Treat Organization (WTO) pada tahun1994 yang membawa Indonesia turut menandatangani General Agreement on Trade and Service (GATS) yang mengatur tentang liberalisasi 12 sektor jasa dan salah satunya adalah liberalisasi pendidikan. Pendidikan telah menjadi sebuah industri yang laris saat ini. Segala sesuatu dilakukan dengan logika untung rugi yang diimplementasikan melalui kebijakan-kebijakan di dalam perguruan tinggi. Kebijakan-kebijakan seperti menetapkan batas maksimal lama kelulusan 5 tahun, kerjasama dengan Universitas Luar Negeri, Universitas Berstandar Internasional yang memperbanyak sistem terkomputasi yang menciptakan mahasiswa yang semakin individualis dan materialis, pemberian beasiswa ke manca negara, dan sebagainya tanpa memahami pihak mana yang sebenarnya diuntungkan dan yang sebenarnya dirugikan.
Secara tidak sadar mahasiswa masuk dalam lingkaran setan pendidikan tinggi yang begitu banyak menyediakan tawaran-tawaran ekonomis yang menjanjikan. Seharusnya pendidikan merupakan sebuah langkah penyadaran pada keadaan sesungguhnya sekalipun itu sangat buruk. Bukan keadaan Indonesia yang seolah-olah baik-baik saja yang membutuhkan orang-orang dengan mulut besar hanya bicara uang bisa mengalir deras entah ke kantong siapa, tetapi Indonesia membutuhkan orang-orang yang berani melepaskan itu semua untuk kembali mengenali Ibu Pertiwi yang kini lara.
Tentang Penulis:
Nabila Rahma N.
Mahasiswi Ilmu Politik 2013, Sekretaris LPM Perspektif 2015
(Visited 43 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here